Pulau di Ujung Dunia
Bayangkan Anda tinggal di ujung dunia.
Seratus mil dari daratan Australia, dikelilingi samudra yang tak berujung. Tidak ada tetangga. Tidak ada toko. Tidak ada dokter. Hanya Anda, pasangan Anda, dan mercusuar yang harus dijaga setiap malam agar kapal-kapal tidak hancur di bebatuan tajam.
Kapal pasokan datang empat bulan sekali. Cuti ke daratan diberikan setiap dua tahun. Hari-hari Anda diisi dengan rutina yang sama: merawat lampu, mencatat cuaca, mengamati laut.
Ini adalah kehidupan yang Anda pilih untuk menyembuhkan luka perang. Kehidupan yang sederhana. Tenang. Dapat diprediksi.
Sampai suatu pagi, laut membawa hadiah yang akan mengubah segalanya.
Sebuah perahu kecil terdampar di pantai. Di dalamnya, seorang pria sudah meninggal. Dan seorang bayi—masih hidup, masih menangis, masih membutuhkan kasih sayang.
Apa yang akan Anda lakukan?
Melaporkan penemuan ini kepada otoritas, seperti yang seharusnya? Atau mengikuti desakan hati istri Anda yang sudah tiga kali kehilangan anak, yang melihat bayi ini sebagai anugerah dari Tuhan?
Inilah dilema yang mengawali "The Light Between Oceans"—novel debut M.L. Stedman yang memaksa kita menghadapi pertanyaan paling sulit: Kapan cinta menjadi salah? Kapan kebaikan menjadi kejahatan?
Tom dan Isabel Sherbourne menghadapi pilihan yang akan menghantui mereka seumur hidup. Dan kita, sebagai pembaca, dipaksa untuk mengakui bahwa kadang dalam hidup, tidak ada jawaban yang benar.
Hanya ada pilihan, konsekuensi, dan upaya untuk hidup dengan keduanya.
Mari kita mulai dari mercusuar di Janus Rock, di mana cahaya berputar setiap malam, memisahkan kegelapan dari terang, tetapi tidak bisa memisahkan yang benar dari yang salah.