Nenek yang Seharusnya Tidak Mati
David Sinclair berusia empat tahun ketika neneknya meninggal.
Dia ingat bagaimana neneknya—wanita yang ceria, penuh energi, yang selalu memberinya permen—tiba-tiba menjadi lemah, pucat, terbaring di tempat tidur. Beberapa minggu kemudian, dia pergi.
Penyebabnya? Gagal jantung akibat komplikasi diabetes tipe 2.
Tapi ini yang membuat David kecil tidak bisa mengerti: Mengapa?
Neneknya tidak ditabrak mobil. Tidak diserang penyakit menular yang tiba-tiba. Dia hanya... menua. Dan penuaan itu membunuhnya.
Bertahun-tahun kemudian, sebagai profesor genetika di Harvard Medical School dan salah satu ilmuwan paling berpengaruh di bidang penelitian penuaan, Sinclair sampai pada kesimpulan radikal:
Neneknya seharusnya tidak perlu mati.
Bukan dalam pengertian filosofis atau religius. Tapi secara literal, ilmiah: penyakit yang membunuhnya—diabetes, gagal jantung, penurunan fungsi organ—semua itu adalah manifestasi dari satu penyakit mendasar: penuaan itu sendiri.
Dan jika penuaan adalah penyakit, maka ia bisa diobati.
Bahkan lebih radikal lagi: Sinclair dan rekan-rekannya percaya bahwa dalam waktu hidup generasi kita, kita akan bisa memperlambat, menghentikan, bahkan membalikkan proses penuaan.
Bukan fantasi sci-fi. Bukan klaim anti-aging palsu yang dijual di TV malam. Ini adalah sains keras, didukung oleh ratusan studi, eksperimen pada ragi, cacing, tikus—dan sekarang awal uji klinis pada manusia.
Dalam buku "Lifespan," Sinclair membawa kita pada perjalanan ilmiah yang mengejutkan: bagaimana kita menua di level seluler, apa yang bisa kita lakukan tentang hal itu hari ini, dan masa depan yang menunggu kita—masa depan di mana 100 tahun bukan usia tua, tapi paruh baya.
Pertanyaan yang tersisa: Apakah Anda siap untuk hidup sampai 120 tahun dengan kesehatan seperti usia 40-an?
Mari kita mulai dengan memahami musuh kita: penuaan itu sendiri.