Ukuran teks
18

Mimpi Seorang Anak Kecil dari Hannibal

Bayangkan Anda anak kecil di kota kecil di tepi sungai, tahun 1840-an. Tidak ada TV. Tidak ada internet. Tidak ada mobil. Kehidupan berjalan lambat—sampai suara peluit kapal uap terdengar dari kejauhan. 

Tiba-tiba, seluruh kota berubah. 

Orang-orang berlarian ke dermaga. Toko-toko ditinggalkan. Semua mata tertuju pada kapal putih megah yang muncul di tikungan sungai, asap hitam mengepul dari cerobongnya, roda kayuh raksasa menciptakan ombak yang menghantam tepian. 

Kapal uap. 

Bagi Samuel Clemens—bocah dari Hannibal, Missouri yang kelak dikenal sebagai Mark Twain—kapal uap bukan sekadar transportasi. Ini adalah keajaiban, kemewahan, petualangan, dan kebebasan yang tergabung dalam satu mesin mengapung. 

Dan sejak hari itu, dia hanya punya satu ambisi: menjadi pilot kapal uap di Sungai Mississippi. 

Bukan dokter. Bukan pengacara. Bukan presiden. 

Pilot kapal uap—profesi yang di zamannya setara dengan pilot pesawat jet hari ini. Atau bahkan lebih prestisius. 

"Life on the Mississippi" adalah kisah bagaimana bocah dari kota kecil itu mewujudkan mimpinya, menguasai profesi paling sulit dan berbahaya di Amerika abad ke-19—dan bagaimana, dua dekade kemudian, dia kembali ke sungai yang sama untuk menemukan bahwa segalanya telah berubah, dan era yang dia cintai telah mati. 

Ini bukan sekadar buku tentang sungai. Ini adalah buku tentang ambisi, perubahan, nostalgia, dan menghadapi kenyataan bahwa masa lalu yang kita romantisasi tidak pernah seindah yang kita ingat.

 


1 dari 14