Wanita di Tepi Jurang
Grace Winters, 72 tahun, berdiri di tepi tebing di Yorkshire, Inggris.
Di bawahnya, laut bergemuruh. Di belakangnya, rumah kosong yang dulu penuh tawa—sekarang hanya penuh dengan hantu kenangan.
Suaminya meninggal tiga tahun lalu. Putranya jarang menelepon, sibuk dengan kehidupannya sendiri di London. Teman-temannya satu per satu menghilang—ada yang pindah, ada yang sakit, ada yang meninggal.
Grace merasa seperti sisa-sisa dari kehidupan yang sudah berakhir. Seperti seseorang yang terlambat keluar dari pesta yang sudah selesai.
"Mungkin ini saatnya," bisiknya pada angin.
Tapi tepat sebelum dia melangkah lebih dekat ke tebing, ponselnya berbunyi. Email.
Dari alamat yang tidak dia kenal: christina.morales@ibizamail.es
Subject: "Grace, aku butuh bantuanmu. Tolong datang."
Christina. Teman masa mudanya. Sahabatnya dari 50 tahun lalu yang menghilang begitu saja dari hidupnya. Christina yang pindah ke Ibiza dan tidak pernah kembali.
Grace membuka email itu dengan tangan gemetar. Pesannya singkat, mendesak, misterius.
Dan dalam hitungan detik, sesuatu berubah. Bukan karena Grace tiba-tiba ingin hidup lagi. Tapi karena rasa ingin tahunya—emosi yang sudah lama mati—tiba-tiba tersulut kembali.
Tiga hari kemudian, Grace terbang ke Ibiza. Dengan satu koper kecil, uang sedikit, dan tidak ada harapan apa-apa.
Dia tidak tahu bahwa perjalanan ini akan mengubah segalanya. Bahwa di pulau kecil di Mediterania itu, dia akan menemukan sesuatu yang dia pikir sudah hilang selamanya:
Kehidupan.