Rumah di Ujung Dunia
Bayangkan sebuah rumah batu abu-abu yang berdiri sendirian di puncak bukit yang tandus.
Di belakangnya, tidak ada apa-apa selain pemakaman dengan batu nisan yang berjejer. Di depannya, hamparan moorland—padang rumput liar yang gelap, ditiup angin kencang sepanjang tahun. Tidak ada pohon. Tidak ada taman bunga. Hanya rumput liar dan langit kelabu yang tak berujung.
Ini adalah Haworth Parsonage, Yorkshire, Inggris—rumah tempat Charlotte Brontë dan saudara-saudaranya tumbuh.
Di sinilah lima anak (setelah ibu mereka meninggal) hidup dalam isolasi hampir sempurna. Di sinilah mereka menciptakan dunia-dunia khayalan yang rumit untuk melarikan diri dari kesepian. Di sinilah tiga dari mereka—Charlotte, Emily, dan Anne—akan menjadi penulis yang mengubah sejarah sastra.
Tapi sebelum ketenaran, sebelum "Jane Eyre" membuat nama Charlotte Brontë dikenal di seluruh dunia, ada kehidupan yang penuh dengan kehilangan yang tak terbayangkan.
Elizabeth Gaskell, novelis terkenal dan sahabat Charlotte, menulis biografi ini dua tahun setelah Charlotte meninggal—dengan tujuan sederhana: menunjukkan kepada dunia bahwa di balik penulis jenius itu ada seorang wanita yang sangat menderita, sangat mencintai, dan sangat berani.
Ini bukan sekadar kisah seorang penulis terkenal. Ini adalah kisah tentang bagaimana seseorang bisa menciptakan keindahan di tengah kegelapan yang luar biasa.
Mari kita mulai dari awal yang tragis.