Ukuran teks
18

Di Balik Tembok yang Runtuh

Bayangkan bangun pagi dan mendapati semua institusi pemerintah menghilang dalam semalam. 

Tidak ada polisi. Tidak ada pengadilan. Tidak ada tentara. Tidak ada aturan yang bisa ditegakkan. Tidak ada yang bisa Anda laporkan ketika dirugikan. Tidak ada yang melindungi properti Anda. Tidak ada yang mencegah tetangga Anda mengambil apa yang dia mau dari Anda. 

Apa yang akan terjadi? 

Sebagian orang optimis akan bilang: "Manusia pada dasarnya baik. Kita akan bekerja sama dan menciptakan masyarakat yang harmonis tanpa paksaan." 

Thomas Hobbes, di tahun 1651, melihat Inggris tercabik-cabik oleh perang saudara—dan dia punya jawaban yang sangat berbeda: 

"Kehidupan manusia akan soliter, miskin, kotor, brutal, dan pendek." 

Tidak ada kalimat dalam filsafat politik yang lebih terkenal dan lebih mengerikan dari ini. Dan ini bukan sekadar pesimisme—ini adalah diagnosis tentang sifat dasar manusia yang mengubah cara kita berpikir tentang pemerintah, kekuasaan, dan peradaban. 

Hobbes menulis "Leviathan" di tengah kekacauan perang saudara antara Royalis dan Parliamentarians. Dia menyaksikan negara runtuh. Dia melihat manusia berubah menjadi serigala bagi sesamanya. Dia mengajukan pertanyaan fundamental: 

Mengapa kita membutuhkan pemerintah? Dan berapa banyak kekuasaan yang harus kita berikan padanya? 

Jawabannya radikal, kontroversial, dan masih diperdebatkan hingga hari ini.

Hobbes bilang: kita membutuhkan monster—Leviathan—untuk melindungi kita dari monster yang lebih besar: sifat dasar kita sendiri. 

Mari kita lihat mengapa.

 


1 dari 10