Ukuran teks
18

Surat Terakhir dari Pria yang Tahu Akhirnya

Roma, 65 Masehi. 

Lucius Annaeus Seneca—filsuf Stoic terbesar Roma, penasihat Kaisar Nero, salah satu orang terkaya di kekaisaran—menerima pesan dari kaisar yang dulu dia ajar sejak anak-anak: 

"Bunuh diri. Atau aku yang akan membunuhmu." 

Seneca berusia 69 tahun. Dia sudah melihat ini datang. Nero, yang dulu pemuda idealis, telah berubah menjadi tiran paranoid yang membunuh siapa saja yang dia anggap ancaman. 

Seneca memanggil istri dan teman-temannya. Tidak ada panik. Tidak ada drama. Dia meminta pisau, memotong pembuluh darahnya, dan duduk dalam bak air panas—membiarkan darah mengalir keluar perlahan sambil berbicara tentang filosofi dengan teman-temannya. 

Kematian yang tenang. Kematian yang sudah dia persiapkan selama bertahun-tahun. Bagaimana seseorang bisa menghadapi kematian dengan begitu tenang? 

Jawabannya ada dalam surat-surat yang dia tulis kepada sahabatnya, Lucilius, di tahun-tahun terakhirnya. 124 surat yang kemudian dikompilasi menjadi "Letters from a Stoic"—salah satu karya filosofi paling personal dan praktis yang pernah ditulis. 

Ini bukan filosofi menara gading. Ini adalah nasihat dari pria yang hidup dalam istana, yang pernah diasingkan, yang menyaksikan pembunuhan dan pengkhianatan, yang mengelola kekayaan besar sambil mengajarkan kesederhanaan, dan yang akhirnya menghadapi kematian dengan keberanian yang luar biasa. 

Seneca menulis untuk Lucilius. Tapi dia juga menulis untuk kita—2000 tahun kemudian—yang masih bergulat dengan pertanyaan yang sama: 

Bagaimana hidup dengan baik? Bagaimana menghadapi kematian? Bagaimana menemukan ketenangan di dunia yang kacau?

 


1 dari 13