Ukuran teks
18

Boneka yang Punya Payudara

Bayangkan Anda adalah satu-satunya wanita di ruang rapat penuh pria lulusan universitas ternama. 

Mereka tertawa, mengolok-olok, menyentuh dada satu sama lain dengan gerakan jorok. Dan semua itu karena Anda baru saja mengungkap boneka yang Anda bawa dari Swiss—boneka dengan bentuk tubuh wanita dewasa, dengan lekukan, dengan... payudara. 

"Dia terlihat seperti pelacur," kata salah satu engineer Anda, Jack Ryan. 

Ruangan meledak dengan tawa mesum. Komentar cabul bertebaran. Tidak ada yang mendengarkan Anda. 

Jadi Anda mengambil pistol mainan dari meja, mengarahkannya ke langit-langit, dan menembakkan tiga kali. BANG. BANG. BANG. 

Keheningan. 

"Kalian semua terdengar seperti sekumpulan bocah yang sedang saling onani," kata Anda dengan suara tajam. Anda sudah belajar berbicara seperti mereka—kasar, blak-blakan, tanpa basa-basi. "Tentu saja dia punya payudara. Itulah intinya. Dia bukan boneka bayi." 

"Lalu apa dia?" tanya Jack. 

"Dia adalah masa depan," jawab Anda. "Dan dia akan membuat kita semua kaya raya." 

Tahun 1956. Anda adalah Ruth Handler, salah satu pendiri perusahaan mainan Mattel. Dan boneka yang Anda pegang ini—yang akan Anda beri nama sesuai putri Anda, Barbara—akan mengubah tidak hanya industri mainan, tetapi juga cara jutaan anak perempuan memandang masa depan mereka. 

Tapi sebelum Barbie menjadi ikon global, sebelum dia punya 200+ karier, sebelum dia menjadi simbol feminisme atau musuh body positivity (tergantung siapa yang Anda tanya)—ada pertempuran.

Pertempuran melawan sexisme. Pertempuran melawan keterbatasan teknologi. Pertempuran melawan waktu. Pertempuran melawan orang-orang yang pikir seorang wanita tidak bisa memimpin perusahaan mainan senilai jutaan dolar. 

Dan pertempuran paling berat: pertempuran melawan orang-orang yang ingin mengambil kredit atas visi Anda. 

Renée Rosen menulis "Let's Call Her Barbie" untuk mengungkap kisah di balik boneka paling ikonik di dunia. Ini bukan hanya cerita tentang mainan—ini cerita tentang ambisi, kreativitas, pengorbanan, dan harga yang harus dibayar ketika Anda menciptakan sesuatu yang mengubah budaya. 

Mari kita masuk ke Mattel, tahun 1950-an, dan melihat bagaimana sekelompok orang yang rusak, cemerlang, dan bertekad mengubah boneka 11,5 inci menjadi warisan yang akan bertahan selamanya.

 


1 dari 10