Ukuran teks
18

Pelajaran dari Ruang Makan Marinir

Afghanistan, suatu hari di pangkalan Marinir. 

Simon Sinek berdiri mengamati sesuatu yang membuatnya berhenti sejenak. Di ruang makan pangkalan, para Marinir berbaris untuk makan. Tapi ada yang aneh dengan barisan itu. 

Yang paling muda—prajurit berpangkat terendah—berada di depan barisan. Mereka yang paling senior, termasuk jenderal dan perwira tinggi, berdiri di belakang. 

"Kenapa seperti ini?" tanya Simon kepada seorang jenderal. 

Sang jenderal menjawab dengan sederhana: "Perwira makan terakhir." 

Tidak ada aturan tertulis yang mewajibkan ini. Tidak ada protokol resmi. Ini bukan tentang tata krama. Ini tentang sesuatu yang jauh lebih dalam. 

Ini tentang kepemimpinan sejati. 

Di ruang makan, ini simbolis. Di medan perang, ini soal hidup dan mati. Pemimpin yang baik rela mengorbankan kenyamanannya—bahkan keselamatannya—demi orang-orang yang mereka pimpin. 

Momen itu mengubah cara Simon melihat kepemimpinan. Dan dari pengamatan itu, ia menulis buku yang akan mengubah cara jutaan orang memahami apa artinya menjadi pemimpin. 

Ini bukan buku tentang teknik manajemen. Ini buku tentang biologi, antropologi, dan kemanusiaan. 

Ini tentang mengapa beberapa tim begitu solid sehingga mereka rela saling melindungi, sementara tim lain penuh dengan saling curiga dan politik. 

Ini tentang mengapa beberapa tempat kerja membuat orang bangun dengan semangat, sementara yang lain membuat orang merasa cemas dan tidak aman.

Dan yang paling penting: ini tentang bagaimana Anda—sebagai pemimpin di level manapun—bisa menciptakan lingkungan di mana orang-orang bisa berkembang.

 


1 dari 9