Ukuran teks
18

Malam Sebelum Kematian

3 April 1968. Memphis, Tennessee. Lorraine Motel, kamar 306. 

Martin Luther King Jr. duduk di tepi tempat tidur. Umurnya baru 39 tahun, tapi dia terlihat seperti pria yang jauh lebih tua. Matanya lelah. Bahunya membungkuk. Beban 13 tahun memimpin gerakan hak sipil terukir di wajahnya. 

Besok dia akan berbicara di depan para pekerja sanitasi kulit hitam yang mogok kerja. Pekerjaan berbahaya. Gaji tidak layak. Tidak ada penghargaan. Mereka hanya meminta diperlakukan seperti manusia. 

Tapi malam ini, King tidak memikirkan pidato besok. Dia memikirkan kematian. 

Ancaman pembunuhan datang setiap hari. FBI menguntitnya ke mana-mana. Teman-temannya mulai menjauhinya karena takut. Bahkan sesama aktivis hak sipil mulai mengkritiknya—terlalu radikal bagi yang moderat, terlalu moderat bagi yang radikal. 

Dia kelelahan. Dia ketakutan. Dan dia tahu waktunya tidak lama lagi. 

Keesokan harinya, 4 April 1968, pukul 6:01 sore, Martin Luther King Jr. ditembak di balkon Lorraine Motel. Pelurunya menembus rahang, memotong tulang belakang, merusak arteri utama. 

Dia meninggal satu jam kemudian. 

Tapi kisahnya tidak dimulai di Memphis. Dan warisannya tidak berakhir di sana. 

Jonathan Eig, jurnalis pemenang penghargaan, menghabiskan bertahun-tahun menggali arsip FBI yang baru dirilis, surat-surat pribadi King, wawancara dengan orang-orang terdekatnya, untuk menjawab satu pertanyaan: 

Siapa sebenarnya Martin Luther King Jr.?

Bukan ikon yang kita lihat di poster. Bukan patung sempurna yang kita rayakan setiap tahun. Tapi manusia—dengan ketakutan, keraguan, kesalahan, dan keberanian luar biasa. 

Mari kita mulai dari awal.

 


1 dari 11