Ukuran teks
18

Pria Kecil di Hadapan Sejarah Besar

Bayangkan Anda berdiri di podium Liga Bangsa-Bangsa di Jenewa, Swiss. Tahun 1936. 

Anda adalah penguasa sebuah bangsa kuno yang telah merdeka selama ribuan tahun—satu-satunya negara Afrika yang tidak pernah dijajah. Bangsa Anda baru saja diserang oleh salah satu kekuatan militer terkuat di Eropa. Pasukan mereka menggunakan gas beracun terhadap rakyat Anda. Membakar desa-desa. Membunuh wanita dan anak-anak. 

Anda datang ke sini mencari keadilan. Mencari bantuan dari komunitas internasional yang mengklaim memperjuangkan hukum dan peradaban. 

Tapi begitu Anda naik ke podium, wartawan Italia berteriak menghina Anda. Mereka bersiul. Mereka mengejek. Keamanan harus mengusir mereka keluar. 

Anda—pria berkulit hitam, tinggi hanya 160 cm, berbicara dalam bahasa yang asing bagi mereka—menghadapi aula penuh diplomat Eropa yang sebagian besar tidak ingin mendengar Anda. 

Karena jika mereka mendengar, mereka harus bertindak. Dan bertindak berarti melawan Mussolini. Dan itu tidak nyaman. 

Jadi mereka lebih memilih mengabaikan Anda. 

Tapi Anda berbicara. Dengan suara tenang tapi penuh kekuatan: 

"Saya berdiri di sini hari ini untuk menjadi saksi atas kejahatan yang dilakukan terhadap rakyat saya. Masalahnya bukan hanya tentang Ethiopia. Ini tentang keamanan kolektif. Ini tentang apakah hukum internasional berarti sesuatu, atau hanya kata-kata kosong." 

Dunia menonton. Tapi dunia tidak bertindak. 

Enam bulan kemudian, Hitler menginvasi Rhineland—tidak ada yang menghentikannya. Tiga tahun kemudian, Perang Dunia II meletus.

Pria kecil itu benar. Pengkhianatan terhadap Ethiopia adalah awal dari kehancuran yang lebih besar. 

Nama pria itu: Haile Selassie I, Kaisar Ethiopia, yang mengklaim keturunan langsung dari Raja Solomon dan Ratu Sheba. 

Scott Anderson dalam "King of Kings" menulis biografi yang luar biasa tentang pria ini—seorang penguasa yang menjadi simbol perlawanan Afrika, pahlawan bagi jutaan orang, namun juga otoriter yang pada akhirnya digulingkan oleh rakyatnya sendiri. 

Ini adalah kisah tentang ambisi, keberanian, dan tragedi—kisah tentang bagaimana bahkan raja terbesar pun bisa jatuh ketika mereka kehilangan sentuhan dengan realitas. 

Mari kita mulai.

 


1 dari 11