Ukuran teks
18

Rumah yang Menyimpan Rahasia Berabad-abad

Bayangkan sebuah rumah tua yang berdiri megah di atas bukit, menghadap sungai kecil di Alabama pedesaan. 

Rumah itu sudah berusia lebih dari 150 tahun. Tujuh generasi keluarga Howland telah lahir, hidup, dan mati di dalamnya. Dinding-dindingnya telah menyaksikan perang, kemerdekaan, perbudakan, dan perubahan zaman yang mengoyak Amerika Selatan. 

Dari teras rumah itu, Anda bisa melihat seluruh Madison City—kota kecil yang tumbuh di sekitar tanah Howland. Keluarga ini bukan sekadar penghuni. Mereka adalah raja-raja kecil yang menguasai ekonomi, politik, dan kehidupan sosial seluruh daerah. 

Untuk generasi demi generasi, nama Howland adalah simbol kehormatan. Simbol kemurnian ras. Simbol nilai-nilai lama yang "mulia" di Amerika Selatan. 

Tapi apa yang terjadi ketika sebuah rahasia kelam—yang disimpan selama puluhan tahun—tiba-tiba terbongkar? 

Apa yang terjadi ketika masyarakat yang selama ini menghormati Anda tiba-tiba mengetahui bahwa darah yang mengalir dalam keluarga Anda tidak "murni" seperti yang mereka kira? 

Apa yang terjadi ketika rumah yang menjadi simbol supremasi kulit putih ternyata menyimpan cerita cinta terlarang antara kulit putih dan kulit hitam? 

Inilah yang dihadapi Abigail Howland pada tahun 1950-an, ketika rahasia kakeknya William terbongkar dan mengubah hidupnya—dan seluruh komunitasnya—selamanya. 

"The Keepers of the House" adalah masterpiece Shirley Ann Grau yang memenangkan Pulitzer Prize 1965. Bukan sekadar novel tentang rasisme—ini adalah pembedahan mendalam tentang hipokrisi moral Amerika Selatan dan kekuatan seorang perempuan yang menolak menjadi korban kebencian.

 


1 dari 12