Ukuran teks
18

Suara yang Menolak Diam

Bayangkan seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun, kecil, kurus, tanpa kecantikan yang dipuji dunia. Yatim piatu. Tinggal di rumah bibi yang membencinya. Sepupunya mengolok-olok dan memukulinya. 

Suatu hari, sepupunya—John Reed, bocah gemuk yang dimanja—melempar buku ke kepalanya sampai berdarah. 

Apa yang dilakukan kebanyakan anak perempuan di era Victoria 1800-an? 

Diam. Menangis dalam hati. Menerima. Karena itulah yang diharapkan dari anak perempuan: patuh, lembut, tidak melawan. 

Tapi Jane Eyre berbeda. 

Dia melawan. Dia berteriak bahwa John adalah penindas, bahwa dia seperti kaisar Romawi yang kejam. Dan untuk "keberanian" ini, dia dikunci di Red Room—kamar tempat pamannya meninggal—sebagai hukuman. 

Di kegelapan kamar itu, di tengah ketakutan dan kemarahan, sesuatu lahir dalam diri Jane: 

Kesadaran bahwa dia layak mendapat lebih baik. Bahwa dia tidak harus menerima ketidakadilan hanya karena dia miskin dan tidak punya kekuasaan. 

"Jane Eyre" bukan sekadar novel romansa Victorian. Ini adalah kisah tentang seorang wanita yang menolak menjadi kecil—yang menolak subordinasi, yang menuntut kesetaraan, yang memilih integritas di atas keamanan. 

Ditulis pada tahun 1847 oleh Charlotte Brontë (menggunakan nama samaran "Currer Bell" karena penulis wanita tidak dianggap serius), novel ini mengguncang masyarakat Victorian yang rigid.

Mengapa? Karena Jane Eyre berbicara. Dia punya opini. Dia menuntut hak-haknya. Dia menolak cinta yang membuatnya tidak setara. 

Dan 177 tahun kemudian, suaranya masih bergema. 

Mari kita ikuti perjalanan luar biasa ini.

 


1 dari 9