Ukuran teks
18

Pertanyaan yang Tidak Boleh Ditanyakan

Bayangkan Anda tinggal di sebuah negara di mana jutaan orang tahu tentang pembunuhan massal—tapi tidak ada yang boleh membicarakannya. 

Bayangkan anak-anak yang diajari di sekolah bahwa ayah atau kakek mereka adalah "pengkhianat," padahal mereka tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. 

Bayangkan sungai-sungai yang pernah merah oleh darah, tapi sekarang di peta wisata hanya disebut "pemandangan indah." 

Inilah Indonesia pasca-1965. Dan untuk waktu yang sangat lama, hampir tidak ada yang bertanya: Apa sebenarnya yang terjadi? 

Vincent Bevins, seorang jurnalis Amerika yang tinggal di Brasil dan Indonesia, mulai mengajukan pertanyaan itu ketika dia menyadari sesuatu yang aneh: orang-orang di seluruh dunia—dari Brasil hingga Chile, dari Indonesia hingga Guatemala—menceritakan kisah yang sangat mirip. 

Kisah tentang malam-malam di mana militer datang. Tentang tetangga yang menghilang. Tentang mayat-mayat yang mengambang di sungai. Tentang bagaimana dalam beberapa bulan atau tahun, ratusan ribu bahkan jutaan orang terbunuh—dan dunia berpaling. 

Dan yang paling mengganggu: Amerika Serikat tidak hanya tahu tentang pembunuhan-pembunuhan ini. Mereka mendukungnya. Memfasilitasi. Bahkan mereplikasi. 

"The Jakarta Method" adalah investigasi tentang salah satu program pembunuhan massal paling berhasil dan paling tersembunyi dalam sejarah modern. Ini adalah cerita tentang bagaimana kekuatan global menggunakan kekerasan untuk membentuk dunia—dan bagaimana kita masih hidup dengan konsekuensinya hari ini. 

Pertanyaannya bukan lagi "apakah ini terjadi?" 

Pertanyaannya adalah: Mengapa kita tidak pernah diajarkan tentang ini?

Mari kita mulai dari Jakarta, 1965.

 


1 dari 11