Ukuran teks
18

Bayi Prematur yang Mengubah Dunia

25 Desember 1642. Hari Natal. Di sebuah rumah pertanian kecil di Woolsthorpe, Inggris, seorang bayi laki-laki lahir prematur—begitu kecil sehingga, menurut ibunya, "dia bisa dimasukkan ke dalam gelas bir." 

Tidak ada yang mengharapkan dia bertahan hidup. Ayahnya sudah meninggal tiga bulan sebelumnya. Ibunya, Hannah, adalah janda muda yang putus asa. Dua wanita yang dikirim untuk mengambil barang perlengkapan pemakaman bayi tidak terburu-buru—mereka yakin dia akan mati sebelum mereka kembali. 

Tapi dia tidak mati. 

Bayi kecil itu bertahan. Dan dia akan tumbuh menjadi Isaac Newton—manusia yang akan mengubah cara kita memahami alam semesta selamanya. 

Tapi ini bukan kisah kepahlawanan sederhana. Ini bukan cerita tentang jenius yang ramah dan bijaksana yang dengan murah hati berbagi pengetahuan dengan dunia. 

Isaac Newton adalah manusia yang rumit. Brilian tapi neurotik. Jenius tapi penuh kebencian. Dia bisa menghabiskan bertahun-tahun menyelesaikan masalah matematika yang membuat orang lain menyerah dalam hitungan hari—tapi dia juga bisa menghabiskan bertahun-tahun dalam perseteruan pahit dengan ilmuwan lain tentang siapa yang menemukan sesuatu terlebih dahulu. 

Dia menemukan gravitasi, menciptakan kalkulus, mengubah pemahaman kita tentang cahaya, dan menulis buku yang akan menjadi fondasi fisika modern. 

Tapi dia juga menghabiskan puluhan tahun mencoba mengubah logam menjadi emas melalui alkimia dan menulis jutaan kata tentang interpretasi mistik dari Alkitab. 

Dia adalah paradoks hidup: setengah ilmuwan modern, setengah ahli mistik abad pertengahan.

James Gleick, dalam biografinya yang brilian, tidak mencoba membuat Newton menjadi pahlawan sempurna. Sebaliknya, dia menunjukkan kepada kita manusia sesungguhnya—dengan semua kejeniusan, keanehan, dan kekurangannya. 

Dan dalam prosesnya, dia menunjukkan bagaimana satu pikiran—meskipun penuh kontradiksi—bisa mengubah pemahaman umat manusia tentang alam semesta. 

Mari kita mulai perjalanan ini.

 


1 dari 10