Dua Investor, Dua Nasib Berbeda
Tahun 1999. Puncak gelembung dotcom. Dua teman kuliah—sebut saja Andi dan Budi—baru menerima bonus akhir tahun. Masing-masing punya 100 juta rupiah untuk diinvestasikan.
Andi excited dengan hype internet. Dia membeli saham perusahaan teknologi yang "akan mengubah dunia." Harga sahamnya sudah naik 500% dalam setahun. Semua orang bicara tentang ini. CNBC memuji-muji. Analis memberikan rating "strong buy."
Ketika Andi bertanya, "Tapi apakah perusahaan ini untung?" temannya tertawa. "Kamu tidak mengerti ekonomi baru! Profit tidak penting. Yang penting user growth dan market share!"
Budi membosankan. Dia membeli saham perusahaan manufaktur tua yang tidak ada yang bicara. Harga sahamnya flat selama bertahun-tahun. Tapi dia menghabiskan weekend membaca laporan keuangan perusahaan itu. Dia menghitung rasio-rasio. Dia membandingkan dengan kompetitor.
"Perusahaan ini punya aset solid, hutang rendah, profit konsisten, dan harga sahamnya murah dibandingkan nilai bukunya," kata Budi.
Andi menguap.
Tiga tahun kemudian, tahun 2002, setelah gelembung dotcom meledak:
Andi kehilangan 95% investasinya. Perusahaan teknologi yang dia beli bangkrut. Ternyata mereka tidak pernah menghasilkan profit. Mereka membakar uang investor untuk iklan dan ekspansi yang tidak berkelanjutan. Ketika uang habis, perusahaan tutup.
Budi portfolionya tumbuh 150%. Perusahaan yang dia beli terus menghasilkan profit, membayar dividen, dan bahkan buyback saham ketika harga murah.
Apa yang membuat perbedaan?
Budi tahu cara membaca laporan keuangan. Andi tidak.
Benjamin Graham—mentor Warren Buffett dan bapak value investing—menulis "The Interpretation of Financial Statements" untuk satu tujuan sederhana:
Mengajarkan investor biasa cara membaca "bahasa uang" sehingga mereka tidak menjadi korban dari hype, spekulasi, dan janji palsu.
Buku ini bukan tentang menjadi kaya cepat. Ini tentang tidak menjadi miskin karena bodoh.
Mari kita mulai.