Ukuran teks
18

Ketika Drum Bicara

Afrika Barat, tahun 1730. 

Francis Moore, seorang pedagang Inggris, berdiri di tepi Sungai Gambia, kebingungan total. 

Dia mendengar suara drum dari kejauhan—bunyi yang bergema di antara pepohonan. Bukan ritme musik. Bukan tarian. Tapi komunikasi. 

Dalam hitungan menit, seluruh desa tahu bahwa kapal Eropa akan tiba besok pagi. Mereka tahu berapa banyak awaknya. Mereka tahu apa yang dibawa. Informasi bergerak dengan kecepatan suara drum—jauh lebih cepat daripada messenger berlari. 

Moore tercengang. "Bagaimana mungkin drum bisa menyampaikan pesan kompleks seperti itu?" 

Bagi orang Eropa abad ke-18, ini tampak seperti sihir. Mereka berasumsi bahwa talking drums hanya bisa menyampaikan pesan sederhana—seperti sinyal bahaya atau panggilan untuk berkumpul. 

Tapi mereka salah. 

Talking drums Afrika memiliki bahasa yang lengkap—dengan grammar, vocabulary, dan nuansa. Drummer bisa menyampaikan berita, gosip, bahkan puisi. Informasi yang kompleks ditransmisikan tanpa tulisan, tanpa kata-kata terucap. 

Bagaimana ini mungkin? 

Rahasia terletak pada pemahaman mendalam tentang sesuatu yang belum punya nama di tahun 1730: informasi itu sendiri. 

James Gleick memulai "The Information" dengan talking drums untuk alasan yang brilian: untuk menunjukkan bahwa jauh sebelum telegraph, telepon, atau internet—bahkan sebelum tulisan—manusia sudah menemukan cara untuk encode, transmit, dan decode informasi.

Dan perjalanan dari talking drums hingga smartphone di saku Anda adalah kisah paling penting dalam sejarah manusia—kisah tentang bagaimana kita menguasai informasi, dan bagaimana informasi kemudian menguasai kita.

 


1 dari 10