Ukuran teks
18

Desa yang Tidak Mengenal Pensiun

Ogimi, Okinawa, Jepang. Di desa kecil yang dikelilingi hutan tropis dan pantai yang tenang ini, terdapat sebuah prasasti batu. Kata-kata yang terpahat di sana berbunyi: 

"Di usia 80 tahun, kamu masih anak-anak. Di usia 90 tahun, jika leluhurmu mengundangmu ke surga, minta mereka menunggu sampai kamu 100 tahun—baru kamu mungkin mempertimbangkannya." 

Ini bukan bercanda. Dari 3.000 penduduk desa, 15 orang adalah centenarian—orang yang berusia 100 tahun ke atas. 171 orang lainnya ada di usia 90-an. Bahkan di Jepang yang terkenal dengan umur panjang penduduknya, ini adalah statistik yang luar biasa. 

Tapi yang lebih mencengangkan bukan hanya berapa lama mereka hidup—tetapi bagaimana mereka hidup. 

Misao, 88 tahun, masih mengurus kebun sayuran setiap pagi. Toshiko, 98 tahun, masih mengajar teknik menenun kain tradisional basho-fu. Haru, 100 tahun, masih berkumpul dengan teman-temannya setiap sore untuk bermain game dan berbincang. 

Mereka tidak duduk di kursi goyang menunggu kematian. Mereka tidak dikurung di panti jompo. Mereka aktif, terlibat, dan—yang paling penting—mereka punya alasan untuk bangun setiap pagi. 

Orang Jepang menyebutnya ikigai—alasan Anda untuk hidup. 

Dan di Ogimi, ikigai bukan hanya filosofi. Ini adalah cara hidup yang telah membuat mereka menjadi salah satu populasi paling sehat dan paling panjang umur di dunia. 

Inilah rahasia yang Héctor García dan Francesc Miralles ungkap setelah menghabiskan waktu di desa ini, mewawancarai centenarian, dan mengamati cara hidup mereka. Rahasia yang bisa kita semua pelajari dan terapkan.

 


1 dari 13