Ukuran teks
18

Kartu Nama dan Bar

Bayangkan seorang pria duduk sendirian di bar New York. Bukan bar mewah di Manhattan dengan cocktail $20. Ini bar biasa, tempat orang datang setelah bekerja untuk melupakan hari yang panjang. 

Pria ini adalah Hugh MacLeod, seorang copywriter iklan yang hidup di YMCA—asrama murah untuk orang-orang yang tidak punya banyak uang. Ia baru saja menghabiskan sepuluh jam menulis copy iklan yang membosankan untuk klien yang tidak peduli. 

Ia jenuh. Frustrasi. Merasa bahwa kreativitasnya mati perlahan di bawah tuntutan pekerjaan korporat. 

Lalu, sambil menunggu minumannya, ia mengambil sebuah kartu nama kosong dari sakunya—kartu-kartu yang setiap orang di dunia bisnis punya tapi tidak pernah benar-benar digunakan—dan mulai menggambar. 

Bukan sketsa rumit. Hanya kartun sederhana dengan beberapa kata sarkastis di bawahnya. "Tidak ada yang peduli dengan album jazz-mu." 

Ia tersenyum sendiri. Menggambar lagi. Dan lagi. 

Kartu nama kecil itu menjadi kanvasnya. Bar menjadi studionya. Dan tanpa ia sadari, ia baru saja menemukan medium yang akan mengubah hidupnya. 

Bertahun-tahun kemudian, kartun-kartun kecil di kartu nama itu akan dilihat oleh jutaan orang di blognya, gapingvoid.com. Ia akan menjadi penulis bestseller, pembicara, konsultan, dan artis yang karyanya dibeli oleh perusahaan-perusahaan besar. 

Tapi lebih penting dari semua itu: ia menemukan suaranya sendiri.

Dan pelajaran pertama yang ia pelajari dalam perjalanan itu—pelajaran yang menjadi judul bukunya—adalah ini: 

Abaikan semua orang.

 


1 dari 13