Ukuran teks
18

Suara dalam Kepala

Pukul 2 pagi. Anda terbangun tiba-tiba. Bukan karena alarm. Bukan karena suara dari luar.

Tapi karena suara dalam kepala. 

Suara yang memutar ulang momen memalukan dari 3 tahun yang lalu. Suara yang membisikkan bahwa Anda tidak cukup baik. Suara yang mengatakan kalau orang lain tahu siapa Anda sebenarnya, mereka akan pergi. 

"Aku terlalu gemuk." "Aku bukan ibu yang baik." "Aku tidak sekompeten rekan kerjaku." "Aku selalu mengecewakan orang." "Kalau mereka tahu aku yang sebenarnya..." 

Dan yang paling menyakitkan: "Kukira hanya aku yang merasakan ini."

Inilah yang Brené Brown sebut sebagai shame—rasa malu yang meracuni jiwa. 

Bukan sekadar malu karena melakukan kesalahan. Tapi perasaan mendalam bahwa ada yang salah dengan diri kita. Bahwa kita cacat. Tidak layak dicintai. Tidak pantas untuk belonging. 

Selama bertahun-tahun, Brené Brown—seorang profesor dan peneliti dari University of Houston—mewawancarai ratusan perempuan tentang pengalaman mereka dengan shame. Dan dia menemukan sesuatu yang mengejutkan: 

Hampir setiap perempuan merasakan shame. Tapi hampir tidak ada yang berbicara tentangnya. 

Kita semua merasa sendirian dalam perjuangan ini. Kita berpikir: "Ini pasti hanya aku." Padahal, di sebelah kita, teman kita berpikir hal yang sama. Rekan kerja kita berpikir hal yang sama. Ibu kita, saudara perempuan kita, putri kita—semuanya berjuang dengan monster yang sama dalam keheningan. 

Shame tumbuh subur dalam keheningan. Dalam rahasia. Dalam keyakinan bahwa "kalau orang tahu, mereka akan menilai aku."

Tapi inilah kabar baiknya: Shame tidak bisa bertahan ketika dibagikan. 

"I Thought It Was Just Me" bukan buku tentang menghilangkan shame—itu mustahil. Ini buku tentang membangun ketahanan terhadap shame. Tentang belajar mengenalinya, menamainya, dan berbagi tentangnya sehingga tidak lagi mengontrol hidup kita. 

Mari kita mulai perjalanan ini bersama.

 


1 dari 11