Ukuran teks
18

Pertanyaan yang Mengubah Segalanya

Bayangkan Anda sedang duduk di ruang kuliah. Profesor filsafat Anda—seorang yang brilian, dihormati, dengan deretan gelar akademis—berdiri di depan kelas dan mengatakan dengan yakin: 

"Tidak ada kebenaran absolut." 

Mahasiswa mengangguk-angguk. Terdengar progresif. Terdengar open-minded. Terdengar cerdas. 

Lalu seorang mahasiswa mengangkat tangan dan bertanya dengan polos: 

"Profesor, apakah pernyataan 'tidak ada kebenaran absolut' itu sendiri merupakan kebenaran absolut?" 

Ruangan sunyi. 

Profesor terdiam. Karena jika dia menjawab "ya," dia baru saja membantah dirinya sendiri. Jika dia menjawab "tidak," lalu mengapa kita harus mempercayai pernyataannya? 

Inilah yang disebut self-defeating statement—pernyataan yang menghancurkan dirinya sendiri. 

Norman L. Geisler dan Frank Turek memulai buku "I Don't Have Enough Faith to Be an Atheist" dengan pertanyaan fundamental ini: Apakah kebenaran itu ada? 

Dan dari titik awal yang sederhana itu, mereka membangun argumen demi argumen, bukti demi bukti, untuk menunjukkan sesuatu yang mengejutkan banyak orang:

Iman kepada Tuhan—khususnya Tuhan Kristen—adalah posisi yang paling rasional, paling didukung oleh bukti, dan paling konsisten dengan realitas yang kita observasi. 

Sebaliknya, atheisme—kepercayaan bahwa tidak ada Tuhan—membutuhkan "lompatan iman" yang jauh lebih besar karena harus mengabaikan atau menjelaskan begitu banyak bukti yang menunjuk ke arah sebaliknya. 

Judul bukunya provokatif, tapi argumennya metodis dan teliti. Dan itulah yang akan kita jelajahi sekarang. 

Siapkan pikiran Anda. Ini bukan khotbah. Ini adalah investigasi.

 


1 dari 11