Pertanyaan yang Mengubah Segalanya
Bayangkan sebuah pulau tropis. Pantai berpasir putih. Pohon kelapa. Laut biru jernih.
Sekarang bayangkan sekelompok anak laki-laki terdampar di pulau itu. Tidak ada orang dewasa. Tidak ada aturan. Tidak ada peradaban.
Apa yang akan terjadi?
Jika Anda pernah membaca novel "Lord of the Flies" karya William Golding, Anda tahu jawabannya: kekacauan. Anak-anak berubah menjadi buas. Mereka membentuk suku-suku yang berperang. Mereka saling membunuh. Peradaban runtuh dalam hitungan hari.
Novel itu diajarkan di sekolah-sekolah di seluruh dunia sebagai metafora tentang sifat manusia: Di balik lapisan tipis peradaban, kita semua adalah binatang yang menunggu untuk dilepaskan.
Tapi inilah yang Rutger Bregman temukan: Itu semua bohong.
Bukan novelnya—tentu saja itu fiksi. Tapi premis dasarnya yang diterima sebagai kebenaran tentang sifat manusia.
Pada tahun 1965, enam anak laki-laki Tonga benar-benar terdampar di pulau terpencil selama 15 bulan. Dan apa yang terjadi?
Tidak ada pembunuhan. Tidak ada kekacauan. Tidak ada "Lord of the Flies."
Sebaliknya, mereka:
● Membagi tugas dengan adil
● Merawat satu anak yang patah kaki sampai sembuh
● Membuat kebun untuk makanan
● Membangun sistem komunikasi untuk menyelesaikan konflik
● Menjaga api tetap menyala secara bergiliran
Ketika mereka akhirnya diselamatkan, kapten kapal berkata: "Kalian adalah anak-anak yang paling baik yang pernah saya temui."
Rutger Bregman menghabiskan bertahun-tahun meneliti satu pertanyaan yang mengubah segalanya:
Apakah manusia pada dasarnya jahat—atau pada dasarnya baik?
Dan jawabannya akan mengejutkan Anda. Lebih dari itu—jawabannya akan mengubah cara Anda melihat dunia, melihat orang lain, dan melihat diri Anda sendiri.
Mari kita mulai dengan membongkar mitos terbesar tentang manusia.