Ukuran teks
18

Pertanyaan yang Mengubah Segalanya

Pertanyaan sederhana: Apa itu emosi? 

Terdengar mudah, bukan? Kita semua tahu apa itu marah, sedih, bahagia, takut. Kita merasakannya setiap hari. Tentu kita tahu apa itu emosi. 

Tapi coba jawab ini: Di mana emosi itu terjadi? Di hati? Di kepala? Di seluruh tubuh? 

Orang Yunani Kuno akan mengatakan emosi bukan "sesuatu" sama sekali—mereka adalah gangguan dalam keseimbangan tubuh, seperti panas yang berlebihan atau dingin yang tidak wajar. 

Orang Buddhis akan mengatakan emosi adalah ilusi yang harus dilepaskan jika Anda ingin mencapai pencerahan. 

Orang Jepang abad ke-19 akan mengatakan shame (malu) adalah emosi paling penting yang membuat seseorang menjadi manusia bermartabat. 

Sementara orang Barat modern—kita—akan mengatakan emosi adalah respons kimia di otak yang triggered oleh stimulus eksternal. 

Siapa yang benar? 

Jawabannya akan mengejutkan Anda: mereka semua benar. Dan mereka semua salah. 

Karena ternyata, "emosi" sebagai konsep yang kita kenal sekarang—sebagai sesuatu yang terjadi di kepala, yang bisa dikategorikan dalam daftar (marah, sedih, bahagia, dll), yang universal untuk semua manusia—adalah penemuan Barat yang baru berusia 200 tahun. 

Sebelum abad ke-19, tidak ada satu budaya pun di dunia yang bicara tentang "emosi" seperti kita sekarang. Mereka bicara tentang "passions," "sentiments," "temperaments," "humors"—konsep yang sangat berbeda.

Richard Firth-Godbehere, salah satu ahli terkemuka dunia tentang disgust (jijik) dan sejarah emosi, menghabiskan bertahun-tahun meneliti satu pertanyaan: Bagaimana cara manusia memahami perasaan mereka telah berubah sepanjang sejarah—dan bagaimana perubahan itu membentuk dunia yang kita tinggali? 

Jawabannya bukan sekadar trivia akademis. Ini mengubah cara kita memahami perang, agama, seni, politik, dan bahkan diri kita sendiri. 

Mari kita mulai perjalanan ini—dari Socrates hingga emoji.

 


1 dari 12