Ukuran teks
18

Ajaran yang Hampir Hilang

Tahun 2600 yang lalu, seorang penjaga perpustakaan tua di China kuno memutuskan untuk meninggalkan peradaban. 

Namanya: Lao Tzu. Dia sudah lelah melihat kebodohan manusia—perang yang tidak ada habisnya, keserakahan yang merajalela, orang-orang yang mengejar kekuasaan dan kekayaan sambil kehilangan jiwa mereka. 

Jadi dia naik kerbau dan pergi ke gunung, berniat menghabiskan sisa hidupnya dalam keheningan. 

Di perbatasan, seorang penjaga gerbang mengenalinya. "Guru," kata penjaga itu, "Anda tidak boleh pergi tanpa meninggalkan kebijaksanaan Anda untuk dunia." 

Lao Tzu setuju. Dia duduk selama tiga hari dan menulis Tao Te Ching—81 bab tentang "Jalan" yang tidak dapat diberi nama. 

Tapi sebelum dia benar-benar menghilang ke pegunungan, dia meninggalkan satu ajaran lagi—lebih eksplisit, lebih praktikal, lebih langsung tentang bagaimana hidup dalam harmoni dengan Tao. 

Ajaran itu adalah Hua Hu Ching. 

Sayangnya, sekitar abad ke-7, Kaisar China yang tidak menyukai ajaran Taoisme memerintahkan untuk membakar semua salinan Hua Hu Ching. Teks ini hampir hilang dari sejarah. 

Hampir. 

Beberapa salinan bertahan, diturunkan secara rahasia dari guru ke murid selama berabad-abad. Dan pada abad ke-20, Brian Browne Walker menerjemahkannya ke bahasa Inggris—membuat kebijaksanaan kuno ini dapat diakses oleh dunia modern.

Apa yang membuat Hua Hu Ching berbeda dari Tao Te Ching? 

Jika Tao Te Ching adalah filosofi, maka Hua Hu Ching adalah manual praktik. 

Jika Tao Te Ching berbicara tentang apa itu Tao, maka Hua Hu Ching mengajarkan bagaimana hidup sesuai dengan Tao. 

Dan dalam dunia modern yang penuh dengan kecemasan, distraksi, dan kekosongan spiritual—ajaran 2600 tahun ini terasa lebih relevan dari sebelumnya. 

Mari kita masuki kebijaksanaan kuno ini.

 


1 dari 11