Dua Karyawan dengan Nasib Berbeda
Tahun 2005. Sebuah perusahaan teknologi di Silicon Valley punya dua karyawan dengan latar belakang hampir identik.
David dan Michael—sama-sama lulus dari universitas yang sama, IPK yang sama, mulai bekerja di hari yang sama, dengan gaji yang sama.
Lima tahun kemudian, nasib mereka sangat berbeda.
David masih di posisi yang sama. Gaji naik sedikit mengikuti inflasi. Dia mengeluh tentang atasan yang tidak adil, sistem yang rusak, dan keberuntungan yang tidak berpihak padanya. "Kalau saja saya punya kesempatan yang sama dengan orang lain," katanya sering.
Michael sudah menjadi direktur, memimpin tim 50 orang. Gaji dan bonus-nya berlipat ganda. Dia tidak lebih pintar dari David. Tidak lebih beruntung. Tidak punya koneksi orang dalam.
Apa yang berbeda?
Cara mereka berpikir.
Ketika menghadapi masalah:
● David berpikir: "Ini bukan salah saya. Tidak ada yang bisa saya lakukan."
● Michael berpikir: "Apa yang bisa saya pelajari dari ini? Bagaimana saya bisa mengubahnya?"
Ketika ada proyek baru:
● David berpikir: "Ini akan menambah beban kerja saya."
● Michael berpikir: "Ini kesempatan untuk belajar skill baru."
Ketika melihat kesuksesan orang lain:
● David berpikir: "Dia beruntung. Saya tidak punya kesempatan seperti itu."
● Michael berpikir: "Apa yang dia lakukan yang bisa saya tiru?"
John C. Maxwell, expert leadership yang telah melatih jutaan orang di seluruh dunia, menghabiskan puluhan tahun mempelajari satu pertanyaan sederhana:
"Apa yang membuat orang sukses berbeda?"
Jawabannya mengejutkan sekaligus melegakan: Bukan bakat. Bukan keberuntungan. Bukan koneksi. Tapi cara mereka berpikir.
Kabar baiknya? Cara berpikir bisa diubah.
Buku "How Successful People Think" mengungkap 11 jenis pemikiran yang membedakan orang sukses dari yang biasa-biasa saja—dan bagaimana Anda bisa mengadopsinya mulai hari ini.
Mari kita mulai.