Jika Anda Bisa Hidup Selamanya, Apakah Anda Mau?
Bayangkan ini: Anda bangun di pagi hari di London tahun 2017. Anda melihat ke cermin dan melihat wajah pria berusia empat puluhan—sedikit garis di sekitar mata, beberapa helai rambut abu-abu, tapi secara keseluruhan masih terlihat baik.
Tapi yang Anda lihat di cermin itu bukan pria berusia empat puluhan.
Anda adalah Tom Hazard. Dan Anda berusia 439 tahun.
Anda lahir pada tahun 1581. Anda hidup melalui masa Shakespeare. Anda menyaksikan pemakaman Shakespeare. Anda berjalan di jalanan Paris tahun 1920-an bersama F. Scott Fitzgerald dan Hemingway. Anda bermain piano di klub jazz Amerika pada era Prohibition. Anda bertemu Captain Cook. Anda hampir tenggelam bersama kapal di Pasifik Selatan.
Anda telah hidup delapan kehidupan normal.
Kedengarannya seperti mimpi, bukan?
Tidak.
Karena ada satu masalah besar dengan hidup begitu lama: semua orang yang Anda cintai akan mati. Berulang kali. Dan Anda akan tetap di sini, sendirian, mengingatnya.
Istri Anda meninggal ratusan tahun lalu—dibakar sebagai penyihir karena orang tidak bisa memahami mengapa Anda tidak menua. Putri Anda menghilang 400 tahun yang lalu dan Anda tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah lama menjadi debu.
Setiap teman yang pernah Anda punya—mati.
Setiap tempat yang Anda sebut rumah—hancur atau berubah di luar pengakuan.
Setiap identitas yang Anda bangun—harus ditinggalkan setiap delapan tahun agar orang tidak curiga mengapa Anda tidak menua.
Dan Anda belajar satu pelajaran yang menyakitkan: Cara paling aman untuk tidak terluka adalah dengan tidak mencintai apa pun. Tidak terikat pada siapa pun. Hanya... bertahan.
Tapi apakah itu benar-benar hidup?
"How to Stop Time" adalah novel Matt Haig yang secara brilian menggunakan premis fantasi—pria yang hidup ratusan tahun—untuk mengajukan pertanyaan paling fundamental tentang kehidupan manusia:
Jika waktu terbatas, bagaimana kita seharusnya hidup?
Mari kita masuk ke dalam cerita ini dan ekstrak kebijaksanaan yang Tom Hazard pelajari dari 439 tahun eksistensi.