Kita Semua adalah Salesman
Bayangkan seorang ibu yang mencoba meyakinkan anaknya yang berusia lima tahun untuk makan sayuran.
"Tidak mau!" teriak si anak sambil menutup mulut rapat-rapat.
Sang ibu mencoba berbagai cara. Pertama, ancaman: "Kalau tidak makan sayur, tidak boleh nonton TV!" Anak menangis, tapi tetap menolak.
Lalu dia coba suap: "Kalau habis sayurnya, ibu kasih es krim." Anak mau—tapi hanya demi es krim, bukan karena mengerti pentingnya sayur.
Akhirnya, ibu yang pintar bercerita: "Kamu tahu Superman? Dia kuat karena makan banyak sayuran hijau. Kalau kamu mau sekuat Superman, kamu harus makan ini juga."
Mata anak berbinar. Dia ambil sendiri sayurnya dan makan dengan antusias. "Aku mau jadi Superman!"
Apa yang baru saja terjadi?
Sang ibu baru saja melakukan penjualan.
Tapi tunggu—bukankah dia bukan salesman? Dia tidak menjual produk. Tidak ada komisi. Tidak ada target.
Dan di situlah letak kebenaran revolusioner dari buku Napoleon Hill ini:
Kita semua adalah salesman. Setiap hari. Dalam setiap interaksi.
Ketika Anda melamar pekerjaan, Anda menjual diri Anda kepada pewawancara. Ketika Anda mengajukan ide di meeting, Anda menjual visi Anda kepada rekan kerja. Ketika Anda meminta maaf kepada pasangan, Anda menjual ketulusan Anda. Ketika Anda mengajar anak, Anda menjual nilai dan prinsip hidup.
Hidup adalah serangkaian transaksi persuasi. Dan orang yang menguasai seni ini—seni "menjual" tanpa menjual jiwa—adalah orang yang akan sukses melewati hidup dengan anggun.
Napoleon Hill menulis buku ini pada 1939 setelah menghabiskan lebih dari dua dekade mewawancarai orang-orang paling sukses di Amerika. Dan dia menemukan satu benang merah yang menghubungkan mereka semua:
Mereka semua adalah master salesman—bukan produk, tapi diri mereka sendiri.
Mari kita pelajari rahasianya.