Ukuran teks
18

Orang Paling Bebas di Athena Hidup di Dalam Tong

Athena, abad ke-4 SM. Kota paling cemerlang di dunia kuno. Pusat filsafat, seni, demokrasi. 

Di alun-alun pasar yang ramai, di antara pedagang yang berteriak menjajakan barang, filsuf yang berdebat, dan warga yang sibuk dengan urusan mereka—ada seorang pria setengah telanjang duduk di dalam tong anggur bekas. 

Namanya: Diogenes dari Sinope. 

Rambutnya kusut. Jenggotnya panjang dan tidak terurus. Jubahnya compang-camping. Semua yang dia miliki bisa dimasukkan ke dalam kantong kecil: satu mangkuk, satu tongkat, satu jubah. 

Orang-orang lewat sambil menggelengkan kepala. "Orang gila," bisik mereka. "Memalukan." Tapi Diogenes hanya tersenyum. Karena dia tahu sesuatu yang tidak mereka ketahui: 

Mereka adalah budak—budak rumah mewah mereka, budak pakaian mahal mereka, budak opini orang lain, budak ketakutan kehilangan status. 

Dia? Dia bebas. 

Suatu hari, Alexander the Great—penakluk terbesar dalam sejarah, penguasa setengah dunia yang dikenal—datang mengunjungi Diogenes. 

Alexander berdiri di depan tong, dengan baju zirah emas berkilau, dikelilingi tentara. Dia menatap ke bawah pada orang miskin ini dan berkata dengan murah hati: 

"Aku adalah Alexander the Great. Minta apapun padaku, dan akan kukabulkan." Diogenes menatap Alexander sejenak. Lalu berkata:

"Minggir. Kau menghalangi matahariku." 

Tentara-tentara terperangah. Beberapa menggenggam pedang mereka, siap membunuh orang yang tidak tahu sopan santun ini. 

Tapi Alexander tertawa. Dan ketika dia berjalan pergi, dia berkata pada pasukannya: "Jika aku bukan Alexander, aku ingin menjadi Diogenes." 

Mengapa? Karena Alexander, dengan semua kekuasaan dan kekayaannya, mengerti satu hal: 

Diogenes adalah satu-satunya orang yang tidak membutuhkan apapun darinya. Dan dalam dunia di mana semua orang menginginkan sesuatu, orang yang tidak menginginkan apapun adalah orang yang paling berkuasa. 

Inilah inti dari filosofi Cynicism—filosofi yang diajarkan Diogenes melalui setiap tindakannya:

Kebebasan sejati datang dari belajar mengatakan "TIDAK." 

Tidak pada kemewahan. Tidak pada status. Tidak pada opini orang lain. Tidak pada semua kebutuhan palsu yang masyarakat coba paksa pada kita. 

Mari kita pelajari seni kuno ini—seni yang mungkin lebih relevan hari ini daripada 2.400 tahun yang lalu.

 


1 dari 10