Ukuran teks
18

Rahasia di Balik Anak yang Luar Biasa

Roma, Italia. Tahun 1907. Dr. Maria Montessori—salah satu dokter wanita pertama di Italia—diminta mengelola sekolah untuk anak-anak dari keluarga miskin di distrik San Lorenzo. 

Anak-anak ini dianggap "tidak bisa diajar." Berasal dari kondisi chaos. Tidak punya discipline. Tidak punya minat belajar. 

Tapi Montessori punya hipotesis yang radikal: Bukan anak-anak yang bermasalah. Tapi cara kita mengajar mereka. 

Dia menciptakan lingkungan yang berbeda total dari sekolah tradisional: 

● Furniture berukuran anak, bukan dewasa 

● Anak bebas memilih aktivitas mereka sendiri 

● Tidak ada guru yang berdiri di depan kelas mengajar 

● Semua benda berada dalam jangkauan anak 

Hasilnya? Mengejutkan dunia

Dalam beberapa bulan, anak-anak yang "tidak bisa diajar" ini: 

● Belajar membaca dan menulis dengan sendirinya 

● Menunjukkan konsentrasi mendalam selama berjam-jam 

● Bekerja dengan tenang dan teratur 

● Membantu satu sama lain tanpa diminta 

Pendidik dari seluruh Eropa datang untuk melihat "Casa dei Bambini" (Rumah Anak-anak) ini. Mereka tidak percaya apa yang mereka lihat. 

"Apa rahasianya?" tanya mereka. 

Montessori menjawab: "Tidak ada rahasia. Kami hanya mengikuti anak."

Lebih dari seratus tahun kemudian, metode Montessori telah menyebar ke lebih dari 20.000 sekolah di 110 negara. Anak-anak dari sekolah Montessori termasuk: 

● Larry Page dan Sergey Brin (pendiri Google) 

● Jeff Bezos (pendiri Amazon) 

● Gabriel García Márquez (penulis peraih Nobel) 

● Helen Hunt (aktris peraih Oscar) 

Apakah Montessori menciptakan "genius"? Tidak. 

Tapi Montessori melepaskan potensi alami yang sudah ada dalam setiap anak—rasa ingin tahu, kemandirian, konsentrasi, dan kecintaan pada pembelajaran. 

Tim Seldin, Presiden Montessori Foundation, menulis buku ini dengan satu tujuan sederhana: Anda tidak perlu sekolah Montessori untuk menerapkan prinsip Montessori. Anda bisa memulai di rumah, hari ini. 

Mari kita mulai.

 


1 dari 11