Ukuran teks
18

Filsuf di Istana yang Korup

Roma, tahun 54 Masehi. 

Lucius Annaeus Seneca berdiri di aula istana, mengamati Kaisar muda 

Nero—muridnya—membuat keputusan yang akan mempengaruhi jutaan nyawa. 

Seneca adalah salah satu orang terkaya di Roma. Penasihat kaisar. Penulis terkenal. Filsuf terkemuka. Dia punya segalanya: kekayaan, kekuasaan, pengaruh. 

Tapi dia juga punya sesuatu yang langka di Roma kuno: hati nurani yang gelisah. 

Setiap hari, dia melihat ketidakadilan. Budak diperlakukan seperti hewan. Orang miskin diinjak. Keadilan dijual kepada penawar tertinggi. Kemarahan dan balas dendam menguasai keputusan. 

Dan Seneca bertanya pada dirinya sendiri: "Bagaimana seseorang melakukan hal yang benar di dunia yang salah?" 

Pertanyaan ini bukan abstrak baginya. Ini adalah pergumulan setiap hari. 

Ketika Nero ingin mengeksekusi seseorang yang tidak bersalah, apakah Seneca harus diam untuk menjaga posisinya? Atau berbicara dan mengambil risiko? 

Ketika budaknya membuat kesalahan, apakah dia harus menghukum mereka keras seperti yang dilakukan semua orang Roma lainnya? Atau memperlakukan mereka dengan kemanusiaan? 

Ketika seseorang mengkhianatinya, apakah dia harus balas dendam? Atau memaafkan?

Setiap hari adalah pilihan moral.

Seneca menulis surat-surat dan esai—bukan untuk akademisi atau filsuf lain. Tapi untuk sahabatnya Lucilius dan untuk dirinya sendiri. Tulisan-tulisan ini adalah pergumulan jiwanya tentang bagaimana hidup dengan integritas di dunia yang tidak adil. 

Hampir 2.000 tahun kemudian, tulisan-tulisan ini dikumpulkan dalam "How to Do the Right Thing"—dan mengejutkan, kebijaksanaan seorang pria yang hidup di era perbudakan, kekaisaran, dan gladiator ini masih relevan hari ini. 

Karena pertanyaan tentang bagaimana memperlakukan orang dengan adil—bagaimana melakukan hal yang benar bahkan ketika sulit—adalah pertanyaan yang melampaui waktu. 

Mari kita pelajari kebijaksanaan dari seorang pria yang mencoba hidup dengan baik di masa yang buruk.

 


1 dari 11