Dua Anak, Dua Jalan yang Berbeda
Tahun 2006. Paul Tough sedang meneliti sekolah-sekolah di Chicago.
Di sana dia bertemu dua anak yang mengubah cara dia memahami kesuksesan:
Kewayne tumbuh di Roseland, salah satu lingkungan termiskin dan paling berbahaya di South Side Chicago. Ayahnya di penjara. Ibunya berjuang dengan tiga pekerjaan. Dia tinggal di apartemen kecil dengan enam orang lainnya. Di sekolah, dia sering berkelahi. Nilainya jelek. Semua orang—guru, konselor, bahkan keluarganya—sudah menulis dia sebagai "anak yang gagal."
Tapi ada sesuatu yang berbeda dari Kewayne.
Meskipun nilainya buruk, dia tidak menyerah. Dia terus datang ke sekolah. Ketika dia gagal, dia mencoba lagi. Dan perlahan—sangat perlahan—sesuatu mulai berubah.
Angela, sebaliknya, tumbuh di Upper West Side Manhattan. Orang tua profesional. Apartemen mewah. Sekolah swasta terbaik. Kursus musik, bahasa, matematika. IQ 140. Nilai sempurna di semua tes.
Semua orang yakin Angela akan sukses luar biasa.
Lima tahun kemudian, Tough melakukan follow-up.
Kewayne lulus SMA—menjadi salah satu dari sedikit anak di lingkungannya yang mencapai itu. Dia diterima di community college. Bekerja part-time. Lambat tapi pasti, dia membangun hidupnya.
Angela drop out dari universitas Ivy League di tahun kedua. Kecanduan video games. Depresi. Tidak bisa menangani kegagalan pertamanya. Orang tuanya bingung: "Bagaimana bisa? Dia sangat pintar!"
Apa yang membuat perbedaan?
Bukan IQ. Bukan nilai tes. Bukan privilege. Tapi karakter.
Paul Tough menghabiskan bertahun-tahun meneliti pertanyaan ini: Apa yang benar-benar membuat anak-anak sukses? Dan jawabannya mengejutkan dunia pendidikan, orang tua, dan policy makers.
Buku "How Children Succeed" membuktikan dengan riset yang solid: Karakter—bukan kecerdasan—adalah prediktor terbaik kesuksesan dalam hidup.
Mari kita mulai perjalanan ini.