Ketika Pemimpin Membuat Pilihan Terakhir
Athena, 399 Sebelum Masehi.
Socrates, filsuf paling berpengaruh di Yunani, duduk di sel penjara. Dia dijatuhi hukuman mati karena "merusak pemuda" dan "tidak percaya pada dewa-dewa kota."
Teman-temannya datang dengan rencana pelarian. Mereka sudah menyuap penjaga. Kapal sudah siap. Dia bisa bebas malam ini.
Tapi Socrates menolak.
"Saya telah hidup 70 tahun di kota ini," katanya. "Saya menikmati perlindungan hukumnya, pendidikannya, masyarakatnya. Sekarang ketika hukum memutuskan melawan saya—meskipun saya pikir keputusan itu salah—apakah saya akan mengkhianati prinsip yang saya ajarkan seumur hidup? Bahwa kita harus taat pada hukum?"
Dia minum hemlock. Dia mati dengan tenang, dikelilingi murid-muridnya.
Ini bukan cerita tentang menyerah. Ini cerita tentang kepemimpinan sejati: ketika tindakan Anda sesuai dengan kata-kata Anda, bahkan ketika biayanya adalah hidup Anda sendiri.
Plutarch—sejarawan dan filsuf yang hidup 2000 tahun lalu—menghabiskan hidupnya mempelajari pemimpin seperti Socrates. Juga Alexander Agung, Julius Caesar, Cicero, Pericles, dan puluhan lainnya.
Dia mengamati pola: apa yang membuat pemimpin besar vs pemimpin yang gagal? Mengapa beberapa dikenang dengan hormat ribuan tahun kemudian, sementara yang lain dilupakan atau dibenci?
Dan dia menemukan sesuatu yang mengejutkan: Prinsip kepemimpinan sejati tidak berubah.
Apa yang membuat pemimpin baik di Athena kuno adalah hal yang sama yang membuat pemimpin baik hari ini. Dan apa yang menghancurkan pemimpin di Roma kuno adalah hal yang sama yang menghancurkan pemimpin modern.
Buku "How to be a Leader" adalah distilasi dari wisdom itu—pelajaran dari 2000 tahun lalu yang masih sangat relevan untuk CEO, manajer, politisi, orang tua, atau siapa pun yang memimpin dalam bentuk apa pun.
Mari kita mulai dengan pertanyaan paling fundamental.