Ukuran teks
18

Percakapan yang Menembus 2000 Tahun

Roma, 129 Sebelum Masehi. 

Scipio Africanus—jenderal terhebat Roma, negarawan yang dihormati, sahabat yang dicintai—telah meninggal. 

Laelius, sahabat terdekatnya, duduk dikelilingi oleh teman-teman dan menantunya. Mereka semua mengenal kesedihan yang dia rasakan. Kehilangan seorang sahabat bukan seperti kehilangan lainnya. 

Salah satu dari mereka bertanya: "Laelius, apa sebenarnya persahabatan itu? Mengapa begitu berharga? Dan bagaimana kita menjalaninya dengan benar?" 

Apa yang terjadi selanjutnya adalah percakapan yang akan bertahan selama lebih dari 2000 tahun. 

Marcus Tullius Cicero—filsuf, orator, dan negarawan Roma—menulis dialog ini pada tahun 44 SM, setahun sebelum dia sendiri dibunuh dalam kekacauan politik Roma. Dia memilih momen paling intim dalam kehidupan manusia—kehilangan seorang teman—untuk mengeksplorasi pertanyaan yang tetap relevan hingga hari ini: 

Apa artinya menjadi teman sejati? 

Dalam era media sosial di mana kita punya "ribuan teman" tapi sering merasa sendirian, di mana koneksi mudah dibuat tapi sulit dipertahankan, kebijaksanaan Cicero tentang persahabatan mungkin lebih penting dari sebelumnya. 

Karena seperti yang akan kita lihat, persahabatan sejati adalah salah satu hadiah terbesar—dan paling langka—dalam hidup manusia. 

Mari kita dengarkan apa yang Laelius—melalui pena Cicero—katakan tentang seni menjadi teman.

 


1 dari 13