Surat dari 2000 Tahun Lalu
Roma, 23 SM.
Seorang pria duduk di rumah petak kecilnya di bukit Sabine, jauh dari hiruk pikuk ibu kota. Dia bukan orang kaya. Bukan kaisar. Bukan jenderal terkenal.
Nama dia Quintus Horatius Flaccus—atau yang kita kenal sebagai Horatius.
Ayahnya adalah budak yang dibebaskan. Horatius sendiri pernah berperang di sisi yang kalah dalam perang saudara dan kehilangan segalanya. Tapi kemudian, melalui puisi dan kebijaksanaannya, dia mendapat hadiah dari Maecenas—seorang patron seni yang kaya: sebuah rumah petak kecil di pedesaan.
Dan di rumah sederhana inilah, Horatius menulis beberapa karya paling abadi dalam sejarah sastra tentang satu pertanyaan sederhana tapi fundamental:
Bagaimana cara hidup yang baik? Bagaimana cara merasa puas?
Lebih dari 2000 tahun kemudian, surat-surat dan puisi Horatius masih dibaca. Bukan karena dia menulis dengan bahasa yang indah (meskipun dia melakukannya). Tapi karena dia menulis tentang hal-hal yang tidak pernah berubah:
Bagaimana menghadapi keinginan yang tidak pernah puas. Bagaimana menghadapi kematian. Bagaimana menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan. Bagaimana menjadi teman yang baik. Bagaimana hidup dengan bijaksana di dunia yang gila.
Orang Romawi kuno menghadapi masalah yang sama dengan kita: terlalu banyak ambisi, terlalu sedikit waktu, terlalu banyak kecemasan, terlalu sedikit kepuasan.
Dan Horatius—penyair bijak dengan humor kering dan hati yang hangat—menulis panduan untuk mereka. Dan untuk kita.
Mari kita dengarkan apa yang dia katakan.