Ukuran teks
18

Tiket yang Menyelamatkan Hidup

Bayangkan ini: Tahun 1929, sebuah keluarga Italia sederhana bersiap untuk perjalanan yang akan mengubah hidup mereka—dan tanpa mereka sadari, mengubah dunia. 

Giovanni Bergoglio, sang kakek, bersama istri dan anaknya Mario (yang kelak menjadi ayah Pope Francis) sudah membeli tiket kapal dari Italia ke Argentina. Mereka sudah mengemas semua harta benda. Sudah pamit dengan sanak saudara. Sudah bermimpi tentang kehidupan baru di negeri yang jauh. 

Tapi kemudian, dalam momen terakhir yang tak terduga, mereka memutuskan untuk menukar tiket mereka dengan kapal lain. 

Kapal yang semula mereka tumpangi tenggelam dalam perjalanan. Semua penumpang tewas. 

Giovanni, Rosa, dan Mario selamat karena keputusan menit terakhir yang tampaknya sepele itu. 

"Jika mereka tidak menukar tiket," tulis Pope Francis dalam otobiografinya yang mengharukan, "saya tidak akan pernah ada." 

Inilah cara Pope Francis—Jorge Mario Bergoglio—memulai kisah hidupnya: dengan mengakui bahwa keberadaannya sendiri adalah mujizat kecil, anugerah yang tidak pernah dianggap remeh. 

"Hope: The Autobiography" adalah buku yang seharusnya terbit setelah kematiannya. Tapi melihat keadaan dunia yang semakin kelam—perang di Ukraina dan Timur Tengah, krisis migrasi global, perpecahan sosial—Pope Francis memutuskan untuk memberikan warisannya lebih awal. 

Ini bukan hanya cerita hidup seorang Paus. Ini adalah wasiat spiritual untuk dunia yang kehilangan arah. Pesan harapan untuk generasi yang tersesat dalam keputusasaan.

Mari kita mulai perjalanan ini—dari barrio miskin Buenos Aires hingga balkon Basilika Santo Petrus, dari seorang anak imigran menjadi suara moral dunia.

 


1 dari 12