Dari Sapiens ke Deus
Selama ribuan tahun, nenek moyang kita berdoa pada dewa-dewa untuk membebaskan mereka dari tiga musuh terbesar kemanusiaan: kelaparan, wabah penyakit, dan perang. Mereka memohon pada yang Mahakuasa untuk hujan yang cukup, panen yang berlimpah, kesembuhan dari penyakit, dan perlindungan dari musuh.
Dewa-dewa tidak menjawab doa-doa itu.
Tetapi kita—manusia modern—melakukannya.
Pada awal abad ke-21, untuk pertama kalinya dalam sejarah, lebih banyak orang mati karena makan terlalu banyak daripada terlalu sedikit. Gula kini lebih berbahaya daripada mesiu. Lebih banyak orang mati karena bunuh diri daripada karena pembunuhan, terorisme, dan perang digabungkan. Dan epidemi yang pernah memusnahkan sepertiga populasi Eropa kini bisa dikendalikan dengan antibiotik dan vaksin.
Kita telah menaklukkan musuh-musuh kuno kita. Pertanyaannya sekarang: apa yang akan kita lakukan dengan kemenangan ini?
Yuval Noah Harari, sejarawan dan filsuf dari Hebrew University Jerusalem, memiliki jawaban yang mengguncang: Kita akan mengejar tiga agenda baru yang bahkan lebih ambisius: keabadian, kebahagiaan abadi, dan kekuatan setara tuhan.
Kita tidak lagi ingin hanya bertahan hidup. Kita ingin menjadi tuhan.
Inilah perjalanan dari Homo sapiens (manusia bijak) menuju Homo deus (manusia tuhan). Ini adalah sejarah masa depan kita—masa depan yang sudah dimulai.