Tuhan yang Terus Berubah
Tahun 1969. Karen Armstrong, seorang biarawati muda Katolik, mengalami krisis iman yang menghancurkan.
Dia telah menghabiskan tujuh tahun dalam biara—berdoa, berpuasa, mencoba mencintai Tuhan dengan segenap hati. Tapi semakin keras dia mencoba, semakin Tuhan terasa jauh. Tidak nyata. Seperti berbicara kepada tembok kosong.
Akhirnya, dia meninggalkan biara. Meninggalkan iman. Meninggalkan Tuhan. Atau begitu dia pikir.
Bertahun-tahun kemudian, sebagai sejarawan agama, Armstrong mulai mempelajari sesuatu yang mengejutkan: Tuhan yang dia coba cintai—Tuhan yang digambarkan seperti manusia super, duduk di atas awan, menghakimi setiap tindakan—bukanlah Tuhan yang dipercaya oleh para mistikus, filosof, dan teolog besar dalam sejarah.
Tuhan itu terlalu kecil. Terlalu terbatas. Terlalu... manusiawi.
Dan ketika Armstrong mempelajari lebih dalam sejarah ide tentang Tuhan—bagaimana konsep itu berevolusi selama 4.000 tahun dalam Yudaisme, Kekristenan, dan Islam—dia menemukan sesuatu yang radikal:
"Tuhan" bukan entitas tetap yang telah ada sejak awal waktu dengan sifat yang tidak berubah. "Tuhan" adalah ide yang terus berkembang, berubah, ditafsirkan ulang oleh setiap generasi sesuai dengan pengalaman dan kebutuhan mereka.
Ini bukan berarti Tuhan tidak ada. Ini berarti cara kita memahami Tuhan selalu merupakan konstruksi manusia—dan konstruksi itu harus terus berkembang atau mati.
"A History of God" adalah perjalanan 4.000 tahun melalui evolusi ide ini. Dari suku nomaden yang menyembah banyak dewa, hingga monoteisme modern. Dari Tuhan yang berperang, hingga Tuhan yang mencintai. Dari Tuhan yang dapat digambarkan, hingga Tuhan yang melampaui semua gambaran.
Ini bukan buku untuk menguatkan iman Anda—atau menghancurkannya. Ini buku untuk membuat Anda berpikir ulang tentang apa yang Anda maksud ketika Anda mengatakan kata "Tuhan."
Mari kita mulai perjalanan ini.