Ukuran teks
18

Seorang Anak dan Ayam-ayamnya

Di sebuah peternakan kecil di Troy, Alabama, tahun 1940-an, ada seorang anak laki-laki bernama John Robert Lewis yang punya tanggung jawab aneh: berkhotbah kepada ayam-ayam. 

Setiap hari, John berusia enam tahun akan mengumpulkan ayam-ayam di kandang, berdiri di depan mereka, dan memberikan khotbah dengan penuh semangat—meniru pendeta yang dia lihat di gereja setiap Minggu. 

Ayam-ayam itu, tentu saja, tidak peduli. Tapi John serius. Sangat serius. Dia akan berbicara tentang keadilan, tentang benar dan salah, tentang pentingnya melakukan hal yang tepat—kepada ayam-ayam yang hanya tertarik pada jagung. 

Keluarganya menganggap ini lucu. Kakak-kakaknya menertawakannya. Tapi ibunya melihat sesuatu yang berbeda. Dia melihat seorang anak yang memiliki api moral yang tidak bisa dipadamkan. 

Bertahun-tahun kemudian, ketika John Lewis berdiri di Edmund Pettus Bridge di Selma, Alabama—kepalanya berdarah, tulang tengkoraknya retak karena pukulan polisi—dia masih berkhotbah. Bukan kepada ayam. Tapi kepada bangsa. 

Dan kali ini, dunia mendengarkan. 

John Lewis menghabiskan seluruh hidupnya "menciptakan masalah yang baik"—apa yang dia sebut "good trouble, necessary trouble." Dari duduk di konter makan siang yang dilarang untuk kulit hitam, hingga naik bus melintasi Selatan yang penuh kebencian, hingga memimpin pawai dari Selma ke Montgomery yang mengubah sejarah Amerika. 

Dia dipukuli. Ditangkap lebih dari 40 kali. Dipenjara berkali-kali. Tulangnya patah. Tengkoraknya retak. 

Tapi dia tidak pernah berhenti mempercayai bahwa kebenaran sedang berbaris menuju kemenangan.

Jon Meacham, sejarawan pemenang Pulitzer, menghabiskan tahun-tahun terakhir kehidupan John Lewis mewawancarai dia, mengumpulkan kisah-kisahnya, dan merekam kebijaksanaannya. "His Truth Is Marching On" adalah hasil dari percakapan itu—sebuah biografi yang bukan hanya tentang satu orang, tetapi tentang kekuatan satu orang untuk mengubah dunia. 

Mari kita mulai.

 


1 dari 11