Pukul 8:15 Pagi
6 Agustus 1945. Hiroshima, Jepang. Pagi yang cerah.
Dr. Sasaki baru saja tiba di rumah sakit untuk shift paginya. Dr. Fujii duduk di beranda rumahnya yang menghadap sungai, membaca koran pagi sambil minum teh. Nyonya Nakamura berdiri di jendela dapur, mengawasi ketiga anaknya bermain. Pendeta Tanimoto sedang membantu temannya memindahkan barang ke pinggiran kota—antisipasi serangan udara konvensional yang mungkin datang.
Pastor Kleinsorge, seorang misionaris Jerman, berbaring di tempat tidur membaca majalah. Nona Sasaki duduk di mejanya di kantor pabrik, memulai pekerjaan administrasi harian.
Enam orang biasa. Di kota yang penuh dengan 245.000 penduduk lainnya. Melakukan hal-hal biasa di pagi yang biasa.
Tidak ada yang tahu bahwa dalam hitungan detik, dunia mereka—dan dunia secara keseluruhan—akan berubah selamanya.
Pada pukul 8:15 pagi, sebuah pesawat B-29 Amerika bernama Enola Gay menjatuhkan "Little Boy"—bom atom uranium pertama yang digunakan dalam perang.
43 detik kemudian, pada ketinggian 600 meter di atas pusat kota Hiroshima, bom itu meledak dengan kekuatan setara 15.000 ton TNT.
Dalam sekejap mata, 80.000 orang tewas. 70.000 lainnya akan menyusul dalam beberapa bulan karena radiasi dan luka bakar.
Tapi buku "Hiroshima" karya John Hersey bukan tentang angka. Bukan tentang strategi militer atau justifikasi politik. Ini tentang enam orang yang selamat—dan apa artinya bertahan hidup ketika dunia di sekitar Anda menjadi neraka.
Hersey menulis buku ini hanya setahun setelah ledakan, ketika dunia masih belum sepenuhnya memahami apa yang telah terjadi. Artikel aslinya mengisi seluruh edisi majalah The New Yorker—sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Mengapa? Karena untuk pertama kalinya, dunia tidak melihat bom atom dari perspektif pesawat pengebom atau ruang perang—mereka melihatnya dari mata orang-orang di bawah ledakan.
Mari kita ikuti perjalanan enam orang ini. Dari sekejap flash yang mengubah segalanya, melalui kengerian yang mengikuti, hingga puluhan tahun kemudian ketika mereka masih hidup dengan bayang-bayang jamur awan.
Ini adalah kisah yang perlu kita dengar. Karena hanya dengan memahami dampak manusiawi dari kengerian ini, kita bisa benar-benar memahami mengapa itu tidak boleh pernah terjadi lagi.