Pertanyaan yang Menentukan Nasib Umat Manusia
Bayangkan Anda adalah presiden negara paling kuat di dunia.
Anda memiliki senjata nuklir yang cukup untuk menghancurkan peradaban berkali-kali. Anda memiliki pangkalan militer di lebih dari 100 negara. Ekonomi Anda adalah seperempat dari ekonomi dunia. Teknologi militer Anda 20 tahun lebih maju dari negara manapun.
Anda adalah kekuatan yang tidak tertandingi dalam sejarah manusia.
Sekarang Anda punya pilihan:
Pilihan A: Bekerja sama dengan komunitas internasional. Memperkuat institusi global seperti PBB. Mengatasi ancaman bersama—perubahan iklim, proliferasi nuklir, kemiskinan global—melalui multilateralisme dan diplomasi.
Pilihan B: Menggunakan kekuatan Anda untuk mempertahankan dominasi global. Menyerang negara yang Anda anggap ancaman—bahkan tanpa bukti konkret. Mengabaikan hukum internasional ketika tidak sesuai kepentingan Anda. Memprioritaskan hegemoni di atas segalanya.
Mana yang Anda pilih?
Noam Chomsky, linguist terkemuka dan salah satu intelektual publik paling kontroversial di dunia, berargumen bahwa Amerika Serikat—khususnya setelah 9/11—telah memilih Pilihan B.
Dan pilihan itu, menurut Chomsky, bukan hanya membahayakan jutaan orang di negara lain. Pilihan itu membahayakan kelangsungan hidup umat manusia.
"Hegemony or Survival," diterbitkan tahun 2003 di tengah invasi Irak, adalah analisis tajam dan kontroversial tentang kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Chomsky tidak menulis sebagai partisan politik—dia mengkritik kebijakan dari Partai Republik maupun Demokrat. Dia menulis sebagai ilmuwan yang menganalisis data, dokumen pemerintah, dan pola sejarah.
Dan kesimpulannya menggelisahkan: Mengejar dominasi global di era senjata pemusnah massal adalah jalan menuju bunuh diri kolektif.
Ini bukan buku yang nyaman. Ini bukan buku yang membuat Anda merasa baik. Tapi ini adalah buku yang perlu dibaca—karena masa depan kita semua tergantung pada pilihan yang kita buat sekarang.
Mari kita mulai.