Ukuran teks
18

Permintaan yang Mengubah Segalanya

Bayangkan seseorang datang kepada Anda dan berkata: "Aku ingin kamu yang memberikan pidato di pemakamanku." 

Bukan setelah mereka meninggal. Bukan dalam surat wasiat. Tapi sekarang, saat mereka masih hidup, masih sehat, masih bisa tersenyum sambil meminta hal yang sangat tidak biasa ini. 

Bagaimana respons Anda? 

Ini yang terjadi pada Mitch Albom—penulis terkenal, jurnalis sibuk, orang yang sudah puluhan tahun tidak dekat dengan agama. 

Yang meminta? Rabbi Albert Lewis—pemimpin spiritual yang mengajar Mitch saat remaja, yang menghadiri bar mitzvah-nya, tapi kemudian Mitch tinggalkan ketika dewasa karena terlalu sibuk mengejar karir. 

"Mengapa saya?" tanya Mitch, bingung. 

"Karena kamu mengenal saya," jawab Sang Rabi dengan senyum hangat. "Dan kamu bisa menulis." 

Tapi Mitch tidak yakin dia benar-benar mengenal pria ini. Sudah puluhan tahun. Orang berubah. Dan dia sendiri sudah jauh dari sinagoga, dari doa, dari semua ritual yang dulu dia jalani. 

Namun dia tidak bisa menolak. Ada sesuatu dalam mata tua Sang Rabi—kebijaksanaan, kehangatan, mungkin juga tantangan lembut: "Kamu pikir kamu sudah mengenal saya? Coba buktikan." 

Maka dimulailah perjalanan delapan tahun—kunjungan rutin, percakapan panjang, pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan, kehidupan, kematian, dan iman. 

Tapi itu bukan satu-satunya perjalanan spiritual Mitch.

Di saat yang hampir bersamaan, secara tidak terduga, dia bertemu dengan Pastor Henry Covington—seorang pendeta kulit hitam di gereja kumuh Detroit yang atapnya bocor dan lantainya rusak, yang masa lalunya dipenuhi narkoba, kekerasan, dan penjara. 

Dua pria. Dua agama. Dua dunia yang sangat berbeda. 

Satu dari suburbia kaya New Jersey. Satu dari ghetto miskin Detroit.

Satu sudah tua dan bijaksana. Satu masih muda dan penuh perjuangan.

Satu Yahudi. Satu Kristen. 

Tapi keduanya mengajarkan Mitch—dan kita—tentang satu hal yang sama: apa artinya memiliki sedikit iman di dunia yang penuh keraguan.

 


1 dari 10