Momen di Bus yang Mengubah Segalanya
April, pagi yang cerah di New York City.
Gretchen Rubin, 37 tahun, duduk di bus kota yang macet. Dia menatap keluar jendela, melihat orang-orang berlalu-lalang di trotoar.
Hidupnya, secara objektif, sempurna.
Dia punya suami yang mencintainya. Dua anak perempuan yang sehat dan menggemaskan. Apartemen yang nyaman di Manhattan. Karir sukses sebagai penulis. Kesehatan yang baik. Tidak ada utang. Tidak ada krisis.
Tapi di bus itu, sebuah pertanyaan tiba-tiba menampar kesadarannya:
"Apa yang aku mau dari hidup, anyway?"
Dan kemudian, lebih menakutkan lagi:
"Bagaimana kalau aku tidak menghargai hidupku? Bagaimana kalau aku melewatkan tahun-tahun terbaikku tanpa benar-benar merasakannya?"
Dia sadar: dia tidak depresi. Dia tidak tidak bahagia. Tapi dia juga tidak sebahagia yang seharusnya dia bisa.
Dia hidup dalam autopilot—menjalani hari demi hari tanpa benar-benar memperhatikan, tanpa benar-benar hadir.
Dan waktu terus berjalan. Anak-anaknya bertambah besar. Tahun-tahun berlalu. Suatu hari nanti dia akan melihat ke belakang dan berpikir: "Kemana perginya hidupku?"
Di bus itulah ide lahir: The Happiness Project.
Satu tahun. Dua belas bulan. Dua belas tema berbeda. Eksperimen sistematis untuk menjadi lebih bahagia—bukan dengan mengubah hidupnya secara radikal, tapi dengan mengubah bagaimana dia menjalani hidup yang sudah dia miliki.
Ini bukan tentang menemukan kebahagiaan di puncak gunung Tibet atau dalam pencerahan spiritual.
Ini tentang menemukan kebahagiaan di tengah kekacauan pagi hari dengan anak-anak, di tengah deadline kerja, di tengah tumpukan cucian dan tagihan yang harus dibayar.
Kebahagiaan dalam kehidupan nyata. Kehidupan sehari-hari. Hidup Anda dan saya.
Mari kita mulai.