Ukuran teks
18

Pertanyaan yang Mengubah Segalanya

Seoul, pagi yang sibuk. Jalanan dipenuhi orang-orang yang berlari—ke kantor, ke sekolah, ke pertemuan. Wajah-wajah tegang. Langkah-langkah tergesa. Mata yang menatap layar ponsel, tidak melihat bunga sakura yang mulai bermekaran di pinggir jalan. 

Di tengah hiruk-pikuk ini, seorang biksu muda duduk di kafe kecil, memperhatikan seorang wanita yang duduk di seberangnya. Ia datang mencari nasihat karena merasa hidupnya kacau. "Saya terlalu sibuk," katanya dengan suara gemetar. "Pekerjaan menumpuk. Hubungan saya berantakan. Saya tidak punya waktu untuk diri saya sendiri. Dunia ini bergerak terlalu cepat." 

Biksu itu—Haemin Sunim—menatapnya dengan lembut dan bertanya satu pertanyaan sederhana: 

"Apakah dunia yang sibuk, atau pikiran Anda?" 

Wanita itu terdiam. Pertanyaan itu terasa seperti tamparan yang lembut, membuka sesuatu yang selama ini tertutup. 

Dunia tidak pernah mengeluh tentang betapa sibuknya ia. Matahari terbit dengan tenang setiap pagi. Bunga mekar tanpa tergesa. Sungai mengalir dengan iramanya sendiri. 

Yang sibuk, yang berteriak, yang berlari—adalah pikiran kita. 

Ini adalah insight yang mengubah segalanya. Dan dari interaksi seperti ini—dari ribuan pertanyaan yang diajukan orang kepadanya di media sosial—Haemin Sunim menulis sebuah buku yang akan menjual lebih dari 4 juta kopi di seluruh dunia. 

Buku yang mengajarkan kita bahwa ketika kita melambat, kita tidak kehilangan waktu. Kita menemukan kehidupan.

 


1 dari 10