Ketika Apologis Terhebat Kehilangan Kata-kata
Bayangkan Anda adalah salah satu pembela iman Kristen paling terkenal di dunia.
Anda telah menulis puluhan buku tentang logika kepercayaan. Anda telah berdebat dengan ateis, memberikan kuliah tentang penderitaan, menghibur ribuan orang dengan kata-kata tentang harapan dan Tuhan yang baik.
Dan kemudian orang yang paling Anda cintai meninggal.
Bukan kematian yang cepat. Tapi kematian yang lambat, menyakitkan, penuh penderitaan—kanker yang merenggut istri Anda sedikit demi sedikit.
Dan tiba-tiba, semua kata-kata yang pernah Anda tulis terasa hambar. Semua teologi yang pernah Anda ajarkan terasa seperti teori tanpa realitas. Semua penghiburan yang pernah Anda berikan kepada orang lain sekarang tidak bisa menghibur Anda sendiri.
Apa yang Anda lakukan?
C.S. Lewis—penulis "The Chronicles of Narnia," "Mere Christianity," dan puluhan karya apologetika lainnya—menghadapi momen ini ketika istrinya, Joy Davidman, meninggal pada tahun 1960.
Alih-alih menulis esai teologis yang rapi tentang penderitaan, dia menulis sesuatu yang sama sekali berbeda: jurnal mentah, tidak tersaring, penuh kemarahan dan keraguan tentang kesedihan yang menghancurkannya.
"A Grief Observed" adalah buku yang lahir dari kegelapan itu.
Ini bukan buku tentang bagaimana menghadapi kesedihan dengan anggun. Ini bukan buku tentang menemukan penghiburan dengan cepat. Ini bukan buku yang memberikan lima langkah untuk pulih dari kehilangan.
Ini adalah buku tentang apa yang sebenarnya terjadi ketika seseorang yang kita cintai meninggal. Tentang kekacauan emosi. Tentang kemarahan kepada Tuhan. Tentang bagaimana kesedihan mengubah segalanya—termasuk apa yang kita pikir kita yakini.
Dan mungkin justru karena kejujuran brutal inilah, buku tipis ini telah menghibur jutaan orang yang berduka lebih dari semua buku teologi formal yang pernah Lewis tulis.
Mari kita masuki perjalanan kesedihan C.S. Lewis—dan melalui perjalanannya, mungkin kita menemukan sesuatu tentang kesedihan kita sendiri.