Istana yang Menyimpan Rahasia
Istana megah di Yerusalem. Hafid, seorang pria tua dengan kekayaan melimpah, berjalan perlahan melewati pilar-pilar onyx hitam yang menjulang tinggi. Dinding bertatahkan permata berkilauan. Air mancur alabaster berbentuk nimfa memancarkan air jernih. Taman dalam ruangan dengan pohon-pohon palem raksasa dalam bejana perunggu.
Setiap pengunjung yang datang tahu: ini adalah rumah orang yang sangat, sangat kaya.
Tapi Hafid tidak bahagia. Kekayaan yang ia miliki—gudang yang memanjang 500 langkah penuh dengan barang-barang berharga dari seluruh dunia—tidak lagi memberinya kedamaian.
Ia memanggil Erasmus, teman setia dan penjaga bukunya.
"Hitung semua kekayaan ku," kata Hafid tenang. "Tukar semuanya dengan emas." Erasmus terkejut. "Semuanya, tuanku?"
"Semuanya. Sisakan hanya cukup untuk hidup dengan tenang di hari-hari terakhir ku. Sisanya... bagikan kepada orang miskin."
Erasmus tidak mengerti, tapi ia melakukan seperti yang diperintahkan.
Setelah semuanya selesai, Hafid membawa Erasmus ke ruangan rahasia yang telah terkunci selama puluhan tahun. Di dalam ruangan itu hanya ada satu hal: peti kayu cedar tua.
Hafid membukanya perlahan. Di dalamnya: sepuluh gulungan kulit usang.
"Semua kesuksesan, kebahagiaan, cinta, ketenangan pikiran, dan kekayaan yang ku nikmati," kata Hafid dengan mata berkaca-kaca, "semuanya berasal dari apa yang tertulis di gulungan-gulungan ini."
Erasmus memandang gulungan-gulungan itu dengan heran. Bagaimana kertas-kertas tua bisa mengubah penggembala unta miskin menjadi pedagang terkaya di dunia?
"Duduklah," kata Hafid. "Akan kuceritakan kisahnya. Dan kita akan menunggu—menunggu seseorang yang ditakdirkan untuk menerima gulungan ini selanjutnya."