Kalimat yang Membuat Dunia Sastra Marah
Bayangkan Anda membuka buku kritik sastra dan membaca kalimat pembuka ini:
"Novelis besar dalam bahasa Inggris adalah Jane Austen, George Eliot, Henry James, dan Joseph Conrad."
Tunggu—hanya empat? Dari ratusan novelis Inggris sepanjang sejarah, hanya empat yang "besar"?
Di mana Dickens? Di mana Hardy? Di mana Fielding dan Richardson yang dianggap pelopor novel Inggris?
Menurut F.R. Leavis, seorang kritikus sastra Cambridge yang menulis "The Great Tradition" pada tahun 1948, mereka tidak cukup baik.
Kalimat pembuka itu—begitu blak-blakan, begitu absolut, begitu tidak peduli dengan konsensus—membuat banyak pembaca dan kritikus marah. Bagaimana seorang kritikus bisa begitu yakin? Bagaimana dia bisa mengabaikan penulis-penulis yang dicintai jutaan pembaca?
Tapi Leavis tidak peduli dengan popularitas. Dia tidak peduli apakah Anda setuju. Dia punya misi: menyelamatkan sastra dari mediokritas dengan memaksa kita membedakan antara yang benar-benar penting dan yang sekadar menghibur.
"The Great Tradition" bukan sekadar daftar penulis favorit. Ini adalah manifesto tentang apa yang membuat sastra penting. Tentang mengapa kita membaca. Tentang bagaimana novel terbaik mengubah cara kita melihat kehidupan.
Dan meskipun Anda mungkin tidak setuju dengan pilihannya—bahkan Anda mungkin marah—Anda tidak bisa mengabaikan argumennya.
Mari kita mulai dengan pertanyaan yang Leavis ajukan: Apa yang membuat novelis "besar"?