Ukuran teks
18

Lampu Hijau di Seberang Teluk

Bayangkan ini: Seorang pria kaya berdiri sendirian di tepi dermaga pribadinya, menatap melintasi teluk gelap. Di kejauhan, ada lampu hijau kecil—hampir tidak terlihat, namun dia menatapnya setiap malam dengan kerinduan yang memilukan. 

Rumahnya di belakang berpesta setiap Sabtu malam. Ratusan orang datang tanpa undangan. Champagne mengalir seperti air. Orkestra jazz bermain sampai subuh. Tawa, tarian, kemewahan yang tak terbayangkan. 

Tapi pemilik rumah itu tidak pernah berpesta. Dia hanya berdiri di sana, sendirian, merentangkan tangan ke arah lampu hijau yang jauh—lampu di dermaga rumah wanita yang dicintainya, wanita yang sudah menikah dengan pria lain. 

Namanya Jay Gatsby. Dan ini adalah kisah tentang bagaimana mimpi bisa menjadi obsesi, bagaimana cinta bisa menjadi ilusi, dan bagaimana kekayaan tidak pernah cukup untuk membeli kebahagiaan. 

Selamat datang di musim panas 1922. Selamat datang di era Jazz. Selamat datang di dunia tempat segala sesuatu berkilau di permukaan—tapi busuk di dalamnya. 

Mari kita mulai dari awal.

 


1 dari 14