Ukuran teks
18

Perlombaan yang Menentukan Hidup dan Mati

Antartika, Oktober 1911. Dua tim dari negara berbeda sedang mempersiapkan perjalanan paling berbahaya dalam hidup mereka: perlombaan menuju Kutub Selatan. 

Tim pertama dipimpin oleh Roald Amundsen, penjelajah Norwegia berusia 39 tahun. Tim kedua dipimpin oleh Robert Falcon Scott, perwira Angkatan Laut Inggris berusia 43 tahun. 

Kedua pemimpin memiliki pengalaman setara. Kedua tim memulai perjalanan dalam waktu yang hampir bersamaan. Keduanya menghadapi jarak yang sama—lebih dari 1.400 mil pulang-pergi—melintasi lingkungan yang tidak kenal ampun, di mana suhu bisa mencapai -20°F atau lebih dingin, diperparah oleh angin kencang. 

Ini tahun 1911. Tidak ada radio. Tidak ada ponsel. Tidak ada komunikasi satelit. Jika mereka melakukan kesalahan, tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka. 

Hasilnya Sangat Berbeda 

14 Desember 1911. Amundsen dan timnya mencapai Kutub Selatan. Mereka menancapkan bendera Norwegia, mengambil foto perayaan, dan setelah beberapa hari, memulai perjalanan pulang. 

25 Januari 1912. Amundsen dan seluruh timnya tiba kembali di base camp mereka dengan selamat. Total perjalanan: 99 hari, 1.400 mil laut. 

17 Januari 1912—34 hari setelah Amundsen. Scott dan timnya akhirnya tiba di Kutub Selatan. Yang mereka temukan adalah bendera Norwegia dan tenda Amundsen. Mereka kalah dalam perlombaan. 

"Ya Tuhan!" tulis Scott dalam diarinya. "Tempat yang mengerikan ini, dan cukup mengerikan bagi kami untuk bekerja keras mencapainya tanpa hadiah menjadi yang pertama." 

Tapi kehilangan perlombaan hanyalah awal dari masalah mereka. Suhu turun drastis. Badai datang. Makanan dan bahan bakar menipis lebih cepat dari perkiraan.

Scott dan seluruh timnya tidak pernah kembali. Mereka semua membeku hingga mati dalam perjalanan pulang. 

Pertanyaan yang Mengubah Segalanya 

Mengapa dua tim yang sangat mirip—pengalaman sama, menghadapi kondisi sama, peralatan sebanding—bisa mengalami nasib yang sangat berbeda? 

Satu tim menang dan hidup. Tim lain kalah dan mati. 

Inilah pertanyaan yang diajukan Jim Collins dan Morten Hansen dalam buku Great by Choice: Mengapa beberapa perusahaan tidak hanya bertahan, tetapi berkembang pesat di tengah ketidakpastian, kekacauan, dan perubahan cepat, sementara yang lain runtuh? 

Seperti perbedaan antara Amundsen dan Scott, perbedaan antara perusahaan hebat dan perusahaan biasa bukan terletak pada keberuntungan, bukan pada kondisi eksternal yang lebih baik, tetapi pada pilihan dan perilaku yang mereka buat.

 


1 dari 9