Tiga Versi dari Setiap Kisah
Ada pepatah lama tentang cerita: selalu ada tiga versi—versimu, versiku, dan kebenaran.
Bayangkan ini: Anda adalah seorang jurnalis muda yang belum pernah mendapat break besar. Setiap artikel yang Anda tulis bagus—tapi tidak cukup bagus untuk membuat keluarga Anda yang penuh dengan penulis terkenal terkesan.
Lalu datang kesempatan: wawancara eksklusif dengan Margaret Ives—wanita paling misterius di Amerika. Pewaris keluarga media paling skandal abad ke-20. Mantan putri tabloid yang menghilang dari publik puluhan tahun lalu.
Tidak ada yang tahu apa yang terjadi padanya. Mengapa dia pergi. Di mana dia bersembunyi. Dan yang paling penting—apa rahasia yang dia simpan tentang keluarga yang pernah menguasai berita di seluruh negeri.
Ini adalah cerita yang bisa mengubah karir Anda.
Hanya ada satu masalah: Anda tidak sendirian.
Hayden Anderson—pemenang Pulitzer, jurnalis paling dihormati di negara ini, pria yang tampak seperti awan petir berbentuk manusia—juga di sini untuk cerita yang sama.
Dan Margaret Ives, dengan senyum misterius dan mata yang melihat terlalu banyak, memberikan Anda berdua satu bulan. Satu bulan untuk mendengar ceritanya. Satu bulan untuk meyakinkannya bahwa Anda yang layak menceritakan hidupnya.
Tapi inilah yang aneh: dia memberi kalian cerita yang berbeda.
Potongan-potongan yang tidak bisa kalian gabungkan karena NDA yang ketat. Puzzle yang tidak lengkap. Dan semakin Anda mendengar, semakin Anda menyadari—ini bukan hanya cerita tentang wanita misterius.
Ini adalah cerita tentang pilihan yang kita buat, cinta yang kita korbankan, dan versi kehidupan yang kita ceritakan pada diri sendiri agar kita bisa terus hidup.
Selamat datang di "Great Big Beautiful Life"—novel Emily Henry yang berbeda dari yang pernah dia tulis sebelumnya.
Mari kita mulai.