Ketika Perang Menghancurkan Segalanya
Bayangkan Anda berusia 19 tahun, baru lulus sekolah, penuh idealisme tentang kehormatan dan tugas.
Negara Anda memanggil. Poster di mana-mana mengatakan: "Your Country Needs You!" Orang-orang berbaris dengan bangga. Band militer bermain. Gadis-gadis memberikan bulu putih kepada pemuda yang tidak mendaftar—simbol kepengecutan.
Jadi Anda mendaftar. Anda akan menjadi pahlawan. Anda akan membela tanah air. Anda akan pulang dengan medali di dada dan cerita keberanian untuk diceritakan kepada cucu-cucu Anda.
Empat tahun kemudian, ini yang tersisa dari Anda:
Tangan gemetar yang tidak bisa berhenti. Mimpi buruk setiap malam tentang ledakan dan mayat. Ketidakmampuan untuk duduk di ruangan dengan pintu tertutup karena Anda merasa terjebak. Melompat kaget setiap kali ada suara keras. Tidak bisa melihat orang mati atau bahkan daging mentah tanpa mual.
Dari 27 teman sekelas Anda yang ikut perang, hanya 6 yang pulang. Dan yang pulang bukan orang yang sama lagi.
Ini adalah cerita Robert Graves—penyair, penulis, dan salah satu dari sedikit yang selamat dari neraka Perang Dunia I.
"Goodbye to All That" bukan buku tentang kepahlawanan. Ini bukan cerita perang yang glamor. Ini adalah kesaksian brutal tentang bagaimana perang menghancurkan satu generasi, dan bagaimana mereka yang selamat tidak pernah benar-benar pulang.
Graves menulis buku ini pada tahun 1929, sebelas tahun setelah perang berakhir, sebagai perpisahan—bukan hanya dengan perang, tapi dengan seluruh dunia yang telah hancur.
Mari kita mulai dari awal.